Kementerian Perdagangan mencatat 168 nota kesepahaman (MoU) senilai US$13,2 miliar diteken antara pelaku usaha Indonesia dan pembeli dari luar negeri pada hari pertama Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41, Rabu (14/10), di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Kabupaten Tangerang. Pameran dagang tahunan ini berlangsung hingga 18 Oktober dan jadi ajang pemerintah mempertemukan eksportir dalam negeri dengan calon pembeli asing. Besarnya nilai kesepakatan di hari pembukaan menunjukkan ada minat konkret dari pasar luar negeri terhadap sejumlah produk andalan Indonesia.

Penandatanganan ini merupakan tindak lanjut dari rangkaian pertemuan bisnis yang digelar sebelum TEI berlangsung, difasilitasi oleh kedutaan besar, konsulat jenderal, atase perdagangan, dan kantor promosi dagang Indonesia di luar negeri. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut Belanda, India, dan Jepang sebagai tiga dari 22 negara dengan potensi nilai transaksi terbesar. Produk yang paling banyak diminati antara lain roti, kue, dan biskuit, batu bara serta briket batu bara, furnitur, dan kertas karton tanpa lapisan, ditambah sejumlah kesepakatan investasi di sektor jasa.

Dua pelaku usaha yang ikut bertransaksi memberi gambaran soal apa yang dicari pembeli asing. Ameer Ali bin Mydin Mohamed, pemilik jaringan hypermarket Mydin asal Malaysia yang sudah 20 tahun berbisnis dengan Indonesia, menyebut keragaman rasa, variasi produk, dan kemasan sebagai daya tarik utama produk Indonesia di pasar negaranya. Sementara itu, Richard Changay dari PT Wahana Kosmetika Indonesia, produsen kosmetik merek Azarine dan Nuface, mengatakan perusahaannya terbantu masukan Kementerian Perdagangan soal karakteristik pasar Malaysia serta fasilitas mengikuti pameran dagang, dan berharap dukungan serupa untuk memperluas ekspor ke pasar lain.