Bank Indonesia mengumpulkan 20 bank umum syariah dan unit usaha syariah dengan 51 korporasi dalam sebuah forum bisnis di Jakarta, Rabu (12/8), untuk menjajaki skema pembiayaan bagi ekspansi usaha. Pertemuan ini penting karena banyak korporasi yang ingin memperluas usaha masih perlu mencari pembiayaan yang sesuai kebutuhan modal kerja maupun investasi jangka panjang lewat jalur syariah.

Menurut Bank Indonesia, pembiayaan bank syariah pada Juni 2026 mencapai Rp720 triliun, tumbuh 11,43 persen dibanding tahun sebelumnya. Simpanan dana nasabah di bank syariah, yang jadi sumber dana untuk disalurkan sebagai pembiayaan, juga naik 13,13 persen menjadi Rp816 triliun. Di sisi lain, rantai pasok produk halal tumbuh 5,5 persen, sementara nilai obligasi syariah korporasi yang masih beredar (sukuk) tercatat sekitar Rp95 triliun.

Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti menyebut pembiayaan syariah perlu menjadi pilihan yang kompetitif bagi korporasi, dengan syarat ada jalur pembiayaan yang layak dibiayai bank, pendalaman pasar keuangan syariah, dan kolaborasi antara korporasi, industri keuangan syariah, regulator, kementerian, dan asosiasi terkait. Kepala Badan Ekonomi Syariah KADIN Indonesia, Titi Khoiriah, menekankan perlunya pembiayaan berjangka panjang dengan skema dan tenor yang sesuai kebutuhan ekspansi korporasi. Perwakilan Asbisindo, Bob Tyasika Ananta, mendorong pendekatan berbasis ekosistem yang menghubungkan korporasi dengan rantai pasoknya, sehingga bank syariah bisa membiayai modal kerja sekaligus membangun hubungan bisnis jangka panjang.

Forum ini merupakan bagian dari program Bulan Pembiayaan Syariah dan Percepatan Intermediasi Indonesia yang digagas BI bersama sejumlah lembaga, termasuk OJK, Kementerian Perindustrian, Kementerian Investasi/BKPM, KNEKS, Asbisindo, IAEI, dan KADIN, untuk mempercepat realisasi pembiayaan syariah ke sektor riil.