PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) menyampaikan koreksi atas laporan keuangan interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Surat bernomor 007/COR/10/2026 ini disampaikan pada 23 Oktober 2026, menyusul surat pernyataan direksi yang sudah diteken lebih dulu pada 20 Oktober 2026. Pendapatan usaha ADHI turun menjadi Rp5,37 triliun, dari Rp5,65 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Meski pendapatan turun, laba bruto justru naik menjadi Rp876,58 miliar dari Rp833,66 miliar, karena beban pokok pendapatan ikut ditekan lebih dalam.
Laba sebelum pajak tercatat Rp20,81 miliar, turun dari Rp30,40 miliar tahun lalu, antara lain karena pendapatan lain-lain bersih menyusut menjadi Rp51,03 miliar dari Rp107,85 miliar. Secara total, laba tahun berjalan konsolidasian turun menjadi Rp15,87 miliar dari Rp21,33 miliar. Namun porsi yang menjadi hak pemegang saham induk justru melonjak menjadi Rp15,34 miliar dari Rp4,42 miliar, sementara porsi untuk pemegang saham minoritas anak usaha susut tajam menjadi Rp528,95 juta dari Rp16,91 miliar. Laba bersih per saham dasar ikut naik menjadi Rp1,82 dari Rp0,53.
Dari sisi neraca, total aset ADHI turun menjadi Rp26,77 triliun per 30 September 2026, dari Rp28,79 triliun di akhir 2025. Kas dan setara kas menyusut tajam menjadi Rp855 miliar dari Rp1,71 triliun, sementara total liabilitas turun menjadi Rp23,46 triliun dari Rp25,50 triliun, antara lain karena utang bank jangka pendek berkurang dari Rp3,01 triliun menjadi Rp1,72 triliun. Total ekuitas naik tipis menjadi Rp3,31 triliun dari Rp3,30 triliun. Laporan arus kas menunjukkan kegiatan operasi membutuhkan kas neto Rp475,12 miliar sepanjang sembilan bulan ini, berbalik dari periode yang sama tahun lalu yang masih menghasilkan kas neto Rp328,76 miliar, dan kekurangannya ditutup antara lain dari pencairan investasi di ventura bersama senilai Rp456,87 miliar.
Pos investasi pada entitas asosiasi susut dari Rp2,24 triliun menjadi Rp661,14 miliar, berbarengan dengan munculnya pos baru senilai Rp2,16 triliun yang diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar dimiliki untuk dijual, pos yang sebelumnya tidak ada di laporan akhir 2025. Pergeseran ini sejalan dengan rencana RUPSLB ADHI yang diberitakan sehari sebelumnya untuk melepas saham di ruas tol Jasamarga Jogja Solo, meski dokumen ini tidak merinci aset mana saja yang dimasukkan ke pos tersebut.
