Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam kuliah umum di Universitas Negeri Semarang pada Jumat (9/10/2026), memaparkan strategi pemerintah menghadapi tantangan ekonomi global dengan mengandalkan penguasaan teknologi digital, hilirisasi industri, dan energi hijau sebagai mesin pertumbuhan baru. Ia menyebut generasi muda yang melek teknologi digital menjadi penentu arah ekonomi Indonesia ke depan, berbeda dari generasi yang bekerja di sektor padat karya maupun padat modal. Pernyataan ini relevan karena menggambarkan ke mana pemerintah ingin mengarahkan kebijakan ekonomi setelah fase pertumbuhan saat ini.

Ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen secara tahunan, ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi, sementara inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen. Kemenko Perekonomian menjadikan hilirisasi sebagai salah satu andalan penambah nilai ekspor: nilai ekspor produk mineral dan logam, menurut data yang dipaparkan, naik dari US$1,4 miliar pada 2016 menjadi US$35 miliar pada 2025. Jumlah produk turunan kelapa sawit juga bertambah dari 54 menjadi 208 jenis, sementara ekspor kelapa diklaim tumbuh hingga 50 persen.

Di sektor digital, pemerintah menggandeng ARM Holdings dari Inggris untuk memperkuat desain semikonduktor, bergabung sebagai anggota pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization atau WAICO, serta mendorong kerja sama ekonomi digital ASEAN lewat Digital Economy Framework Agreement. Untuk menyiapkan talenta, pemerintah menjalankan program pertukaran dengan Singapura, insentif pengurangan pajak hingga 200 persen untuk kegiatan riset tertentu, dan program Digital Talent Scholarship. Di sektor energi, pemerintah menargetkan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 gigawatt sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, untuk mengantisipasi kenaikan kebutuhan listrik nasional pada 2030, didukung sistem penyimpanan energi skala besar.

Perluasan pasar ekspor juga disebut sebagai bagian dari strategi ini, melalui perjanjian dagang dengan Uni Eropa, Australia, Kanada, Korea Selatan, dan Swiss, yang diharapkan membuka peluang ekspor minyak kelapa sawit, alas kaki, kopi, furnitur, serta produk pertanian dan perikanan. Dalam acara yang sama, Kemenko Perekonomian turut menyerahkan beasiswa Dewan Penyantun Pendidikan UNNES kepada 531 mahasiswa untuk tahun 2026, naik dari 506 mahasiswa pada 2025 dan 376 mahasiswa pada 2024.