PT Argo Pantes Tbk (ARGO) menyampaikan tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia menyusul surat permintaan penjelasan dan pemberitahuan site visit dari BEI tertanggal 30 September 2026. Dalam surat bernomor 283/L-Dir/ARP/X/2026 yang ditandatangani Corporate Secretary Humprey pada 2 Oktober 2026, perseroan menyatakan telah siap menerima kunjungan tim BEI pada Senin, 5 Oktober 2026, baik di kantor pusat di Jakarta Selatan maupun di lokasi gudang di Cikokol, Tangerang.

Dari sisi kinerja, pendapatan usaha ARGO tercatat Rp52,8 miliar, turun 5 persen, dengan pendapatan dari kerja sama pemanfaatan fasilitas ex-tekstil anjlok dari Rp10,2 miliar menjadi Rp4,5 miliar karena penyewa menurunkan skala produksi. Sebaliknya, pendapatan segmen energi naik dari Rp6,3 miliar menjadi Rp8,3 miliar, dan tingkat okupansi gudang sewa terus membaik, dari 36,1 persen pada 2023, 42,1 persen pada 2024, 49,3 persen pada 2025, menjadi 59,3 persen per Juni 2026. Perseroan juga mengakui penjualan ke pihak terafiliasi, PT Argo Manunggal Trista, masih menyumbang hampir 20 persen dari total penjualan, dan menargetkan porsi itu turun di bawah 20 persen pada akhir 2026 dan di bawah 15 persen pada akhir 2027.

Perseroan mencatat rugi selisih kurs melonjak dari Rp2,9 miliar menjadi Rp41 miliar, dipicu kewajiban dalam dolar AS senilai US$38,5 juta (utang bank US$8,5 juta dan obligasi subordinasi US$30 juta) di tengah pelemahan rupiah 6 persen dari Rp16.782 menjadi Rp17.856 per dolar sepanjang semester pertama 2026. Beban jasa profesional juga naik 289 persen menjadi Rp7,9 miliar untuk pengurusan izin, desain konstruksi, dan konsultan hukum terkait ekspansi bisnis sewa gudang. Di sisi lain, kas perseroan naik dari Rp36,5 miliar menjadi Rp72,4 miliar karena uang muka sewa, termasuk dari J&T Cargo, sementara piutang usaha turun dari Rp53,2 miliar menjadi Rp41,3 miliar meski 87 persen dari piutang yang menunggak lebih dari 120 hari berasal dari bisnis tekstil lama.

Poin yang disorot BEI adalah obligasi subordinasi tanpa bunga senilai Rp535 miliar dalam denominasi dolar yang jatuh tempo 2031. Pemegang obligasi ini, Argo Pantes Finance BV, telah dinyatakan pailit sejak 2006, dan ARGO mengaku masih mempelajari serta berkomunikasi dengan pihak kompeten untuk membahas penyelesaiannya, tanpa kepastian langkah atau dasar hukum write-off. Perseroan juga melaporkan reklasifikasi tanah senilai Rp535 miliar dan bangunan Rp209 miliar menjadi properti investasi sesuai standar akuntansi untuk bisnis sewa, serta perpanjangan sertifikat HGB atas 215.535 meter persegi lahan di Tangerang hingga 2057.