PT Astra International Tbk (ASII) melaporkan laba bersih sebesar Rp24,07 triliun untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, turun 20,1 persen dibandingkan Rp30,11 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terjadi meski pendapatan bersih perusahaan nyaris tidak bergerak, yakni Rp243,87 triliun dibandingkan Rp243,61 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Laba yang menjadi hak pemegang saham Astra tercatat Rp21,60 triliun, turun 11,7 persen dari Rp24,47 triliun, sehingga laba per saham turun dari Rp605 menjadi Rp541.

Tekanan pada laba berasal dari beberapa pos biaya. Beban penjualan melonjak 22 persen menjadi Rp10,41 triliun dan beban umum serta administrasi naik 10 persen menjadi Rp16,94 triliun. Pos beban lain-lain bersih juga berbalik dari untung Rp1,84 triliun pada 2025 menjadi rugi Rp2,43 triliun pada 2026. Di sisi lain, bagian Astra atas hasil usaha ventura bersama dan entitas asosiasi justru naik 20 persen menjadi Rp8,13 triliun. Laba yang menjadi hak pemegang saham minoritas di anak usaha turun tajam 56 persen, dari Rp5,64 triliun menjadi Rp2,47 triliun.

Dari sisi arus kas, kas bersih dari aktivitas operasi turun 18,4 persen menjadi Rp28,61 triliun dari Rp35,07 triliun setahun sebelumnya. Astra membayar dividen tunai Rp11,69 triliun kepada pemegang saham Perseroan dan Rp2,43 triliun kepada pemegang saham minoritas anak usaha sepanjang periode ini. Perseroan juga membeli kembali saham treasuri senilai Rp2,88 triliun di tingkat induk, sementara anak usahanya membeli saham treasuri senilai Rp3,64 triliun, sehingga saldo saham treasuri di neraca naik dari Rp1,76 triliun menjadi Rp4,64 triliun. Total aset Astra per 30 September 2026 tercatat Rp525,72 triliun, naik dari Rp507,37 triliun pada akhir 2025, sementara jumlah ekuitas naik dari Rp290,81 triliun menjadi Rp297,89 triliun.