PT Bank Central Asia Tbk membantah kabar yang beredar di media sosial soal rencana pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad, yang dikenal dengan nama Haji Isam, mengakuisisi saham bank tersebut. Bantahan ini penting karena rumor semacam itu berpotensi memicu spekulasi di pasar saham BBCA serta membingungkan nasabah dan investor publik.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menegaskan bahwa informasi mengenai rencana aksi korporasi tersebut tidak benar. Ia meminta masyarakat memverifikasi kabar seputar BCA hanya melalui situs resmi perusahaan atau media yang kredibel, sembari menyatakan bank tetap beroperasi sesuai prinsip kehati-hatian dan aturan yang berlaku.

Berdasarkan data kepemilikan saham, PT Dwimuria Investama Andalan (DIA) tetap menjadi pemegang saham mayoritas BCA dengan 67,73 miliar lembar saham atau setara 54,94 persen. Sisanya, 44,64 persen, dipegang publik, yang terdiri dari 2,51 persen saham warkat dan 42,13 persen saham nonwarkat.

Struktur pengendali BCA sempat berubah setelah Bambang Hartono meninggal dunia, sebagaimana diungkapkan lewat keterbukaan informasi pada 31 Juli 2026. Sebelumnya, Robert Budi Hartono dan Bambang Hartono sama-sama tercatat sebagai pemegang saham DIA sekaligus pemegang saham pengendali terakhir BCA. Setelah Bambang Hartono wafat, Robert Budi Hartono menjadi pengendali tunggal DIA dengan porsi kepemilikan yang tetap sebesar 51 persen, sehingga otomatis menjadi pemegang saham pengendali terakhir BCA.