PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF), produsen dan distributor produk pangan olahan, menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Dalam surat bernomor B-274/DIR/ETT/X/2026, Direktur Utama Ari Wijayanto menyatakan laporan ini telah memuat seluruh informasi secara lengkap dan tidak mengandung fakta material yang disembunyikan. Pendapatan perseroan tercatat Rp3,65 triliun, turun dari Rp5,02 triliun pada periode yang sama tahun lalu, sementara laba bersih merosot dari Rp98,96 miliar menjadi Rp24,89 miliar.

Penurunan laba terjadi di hampir semua lini. Laba kotor turun dari Rp293,35 miliar menjadi Rp269,42 miliar, laba usaha turun dari Rp163,72 miliar menjadi Rp114,15 miliar, dan EBITDA turun dari Rp192,48 miliar menjadi Rp149,99 miliar. Laba per saham dasar ikut turun tajam dari Rp12,19 menjadi Rp3,06. Rasio pengembalian atas ekuitas (ROE) turun dari 27,42 persen menjadi 6,74 persen dan rasio pengembalian atas aset (ROA) turun dari 5,33 persen menjadi 1,10 persen. Arus kas bersih dari aktivitas operasi juga menyusut dari Rp460,16 miliar menjadi Rp324,11 miliar, sementara perseroan membelanjakan Rp211,80 miliar untuk pembelian aset biologis atau hewan ternak dan Rp6,86 miliar untuk persiapan pengembangan usaha susu sapi perah.

Di sisi permodalan, perseroan melakukan pembelian kembali saham senilai Rp46,86 miliar sepanjang periode ini, yang tercatat mengurangi tambahan modal disetor sebesar Rp33,11 miliar dan membentuk saham treasuri senilai Rp13,76 miliar, sebuah pos yang sebelumnya tidak ada. Akibatnya, jumlah ekuitas perseroan turun dari Rp391,07 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp369,10 miliar pada akhir September 2026, meskipun saldo rugi ditahan mengecil dari Rp259,73 miliar menjadi Rp234,74 miliar. Total aset perseroan tercatat Rp2,27 triliun, dengan empat entitas anak yang bergerak di bidang perdagangan dan manufaktur produk konsumen, yaitu PT Sukses International Anugerah Pratama, PT Fajar Jaya Anugerah, PT Sinar Wijaya Utama, dan PT De Glow International, dengan kepemilikan saham perseroan di keempatnya berkisar 99 persen hingga 99,62 persen.