Bank Indonesia bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian dan lembaga terkait membuka Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Sulawesi, Maluku, dan Papua 2026 di Makassar, Jumat (23/10). Forum ini menjadi wadah koordinasi untuk menjaga inflasi kelompok pangan bergejolak tetap di kisaran 3,0 sampai 5,0 persen, target yang disepakati Tim Pengendalian Inflasi Pusat sejak akhir Januari lalu. Hal ini penting karena gejolak harga pangan langsung memukul daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah yang porsi belanjanya banyak tersedot untuk kebutuhan pokok.
Acara dibuka oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi, serta dihadiri kepala daerah se-Sulampua. Program yang diluncurkan diberi nama Tallukarsa Pangan Sulampua, berisi tiga langkah: memperkuat produksi lewat sarana prasarana dan pembiayaan bank untuk petani dan nelayan, mempererat kerja sama antar daerah serta kios pangan bergerak untuk memperpendek jalur distribusi, dan membangun kelembagaan lewat kerja sama dengan BMKG serta penyusunan neraca pangan bersama Badan Pangan Nasional. Pendekatan ini disusun karena Sulampua adalah wilayah kepulauan dengan sentra produksi dan daerah konsumsi yang terpisah jauh, sehingga rawan ketimpangan pasokan, terutama saat risiko iklim seperti El Nino mengganggu produksi.
Perubahan harga barang dan jasa dibanding bulan sebelumnya. Naik 0,09 poin dibanding Agustus 2026. Posisinya di atas rata-rata 12 bulan terakhir (0,26%).
Sumber: Badan Pusat Statistik, Inflasi Bulanan (M-to-M). Diolah The Signal.
Thomas menyebut dua contoh yang menjadi inspirasi program ini dan diharapkan direplikasi ke daerah lain: kandang ayam modern tertutup atau closed house di Sulawesi Selatan yang menjaga kepastian produksi telur dan daging ayam, serta taksi nelayan berbasis koperasi di Gorontalo yang mendukung produktivitas tangkapan ikan. "Ke depan, peningkatan produksi hingga efisiensi rantai pasok, agar direplikasi ke daerah lain sehingga inflasi terkendali dan berdampak bagi masyarakat," ujar Thomas.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menyampaikan klaim bahwa fundamental ekonomi nasional masih kuat, dengan pertumbuhan ekonomi 5,45 persen pada semester I 2026 dan inflasi nasional 3,28 persen, yang menurutnya masih sesuai sasaran 2,5 plus minus 1 persen. Ia juga menyebut realisasi investasi hingga September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun, tumbuh 7,3 persen, dengan 50,6 persen di antaranya berasal dari luar Jawa. Dradjad mengatakan tugas selanjutnya adalah memastikan dana investasi itu ikut mengalir ke petani, nelayan, dan usaha pangan di Sulampua.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengklaim harga pupuk bersubsidi sudah diturunkan 20 persen tanpa tambahan anggaran negara, disertai tambahan kuota 700 ribu ton, sebagai bagian dari upaya memperkuat produktivitas petani. Ia juga menyebut indeks Nilai Tukar Petani mencapai 131,11, yang disebutnya tertinggi dalam 34 tahun terakhir, serta cadangan stok beras nasional per 23 Oktober 2026 berada di sekitar 4,5 juta ton. Amran menambahkan, ekspor pertanian 2025 tercatat Rp166,53 triliun atau naik 28,26 persen, sementara impor pertanian turun 9,66 persen menjadi Rp41,67 triliun. Angka-angka ini merupakan klaim resmi Kementerian Pertanian dalam forum tersebut.
Rangkaian GPIPS Sulampua 2026 juga menghasilkan rumusan "Panca Reso Sipatokkong Pangan Sulampua", lima komitmen bersama TPIP/TPID se-Sulampua: penguatan produksi pangan yang adaptif iklim, hilirisasi untuk menambah nilai dan masa simpan produk, perluasan akses pembiayaan bagi petani dan nelayan, penguatan data stok serta operasi pasar berbasis sistem peringatan dini, dan penguatan konektivitas antar pulau. Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi menambahkan, pemerintah daerah bersama Bank Indonesia akan menjalankan strategi 4K, yakni menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
