PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH) menggelar Public Expose Tahunan pada Kamis, 8 Oktober 2026, di Luminary Tower, Jakarta, dihadiri Presiden Direktur Willy Chandry dan Direktur Ondi Tarnama Simamora. Selain manajemen dan karyawan, acara ini dihadiri 17 peserta eksternal yang terdiri dari jurnalis sejumlah media serta enam investor individu. Dalam sesi tanya jawab, manajemen mengonfirmasi bahwa utang perusahaan kepada PT BAU telah lunas dibayar menggunakan dana hasil rights issue. Sisa dana sebesar Rp92 miliar dialokasikan untuk dua pos: Rp58 miliar sebagai modal kerja operasional dan Rp34 miliar untuk belanja modal, yang akan dipakai memperkuat sistem dan infrastruktur IT serta pengadaan perangkat baru.
Soal susunan manajemen, Willy Chandry menegaskan tidak ada perubahan di jajaran Dewan Komisaris, Surya Aseanto Putra tetap menjabat Presiden Komisaris dan Niniek S Rahardja tetap Komisaris Independen. Perubahan hanya terjadi di kursi Direktur, dari sebelumnya Oktavianus kini digantikan Ondi Tarnama Simamora yang akan fokus pada pengembangan teknis IT. Menjawab pertanyaan soal kantor baru Cashlez yang kini berada di alamat yang sama dengan PT BAU, manajemen menyatakan tidak ada rencana aksi korporasi apa pun antara keduanya, karena fokus bisnis BAU di sektor pertambangan dianggap tidak sejalan dengan bisnis sistem pembayaran milik Cashlez.
Mengenai kinerja, manajemen memaparkan volume transaksi (sales volume) tumbuh 28 persen secara kuartalan, dari Rp520 miliar pada kuartal pertama menjadi Rp668 miliar pada kuartal kedua 2026, dengan puncak Rp236 miliar tercatat pada Juni. Total sales volume semester pertama 2026 mencapai Rp1,19 triliun. Frekuensi transaksi juga melonjak 96 persen, dari 643 ribu transaksi di kuartal pertama menjadi 1,261 juta transaksi di kuartal kedua, sehingga total semester pertama mencapai 1,9 juta transaksi. Manajemen menyebut pendapatan berulang perusahaan ditopang biaya pemrosesan transaksi (MDR) serta biaya sewa dan pemeliharaan perangkat EDC, dan mengklaim penggunaan teknologi AI untuk konten promosi telah memangkas biaya dan waktu produksi sebesar 50 hingga 60 persen.
