Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong Indonesia dan Mozambik memperkuat konektivitas dagang dalam forum bisnis di sela Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD City, Tangerang, Rabu (15/10). Forum tersebut meninjau pelaksanaan Perjanjian Dagang Preferensial Indonesia-Mozambik (IM-PTA) yang sudah berjalan, sekaligus membuka celah baru untuk memperluas akses pasar kedua negara.
Menurut Roro, posisi geografis kedua negara saling melengkapi. Mozambik menjadi pintu masuk ke kawasan Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (SADC) dan kawasan perdagangan bebas benua Afrika (AfCFTA) yang mencakup sekitar 1,4 miliar penduduk, sementara Indonesia sebagai ekonomi terbesar ASEAN membuka jalan ke pasar bebas ASEAN dengan lebih dari 680 juta konsumen. Tahun ini juga menandai 35 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Mozambik.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai perdagangan kedua negara pada 2025 tercatat US$162,8 juta, naik 57,5 persen dibanding 2024. Ekspor Indonesia ke Mozambik saat itu mencapai US$107,8 juta, naik 52,1 persen, sementara impor dari Mozambik senilai US$55 juta. Tren ini berlanjut pada Januari-Agustus 2026, dengan nilai perdagangan US$110,7 juta, naik 35,79 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya, didorong ekspor Indonesia yang tumbuh 57,75 persen menjadi US$88,9 juta.
Produk ekspor utama Indonesia ke Mozambik meliputi minyak kelapa sawit dan fraksinya, sabun, asam lemak industri, margarin, dan semen. Sebaliknya, Indonesia mengimpor tembakau, batu bara, mineral industri, dan grafit alam dari Mozambik. Di sela forum, kedua pihak juga menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara asosiasi pengusaha Mozambik dan Asian Trade, Tourism, and Economic Council (ATTEC) yang difasilitasi ITPC Johannesburg, sementara pelaku usaha Indonesia seperti produsen spa Tirta Ayu Spa dan produsen perabot kayu Karaya Living turut menjajaki peluang ekspor ke pasar tersebut.
