PT DCI Indonesia Tbk (DCII) melaporkan total aset konsolidasian naik 51,4 persen dari Rp6,6 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp10,1 triliun per 30 September 2026, menurut laporan keuangan interim kuartal III yang belum diaudit. Pendapatan perusahaan selama sembilan bulan pertama 2026 tumbuh menjadi Rp2,53 triliun dari Rp1,92 triliun pada periode yang sama tahun lalu, sementara laba bersih naik menjadi Rp919,88 miliar dari Rp825,09 miliar. Laba per saham ikut naik dari Rp346 menjadi Rp386.

Kenaikan aset ini terutama berasal dari belanja modal untuk menyelesaikan fit-out sisa kapasitas gedung pusat data JK6, membangun gedung pusat data baru guna memenuhi kapasitas yang sudah dikontrak pelanggan, dan membeli cadangan lahan (landbank) baru untuk ekspansi ke depan. Untuk membiayai semua itu, DCII menarik pinjaman bank baru dalam jumlah besar. Total liabilitas perusahaan melonjak 94,5 persen dari Rp2,6 triliun menjadi Rp5,1 triliun pada akhir September 2026. Pinjaman bank jangka panjang naik dari Rp1,59 triliun menjadi Rp3,7 triliun, dan di laporan arus kas tercatat penerimaan baru dari utang bank sebesar Rp2,48 triliun, jauh di atas Rp250 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Belanja untuk aset tetap mencapai Rp2,96 triliun selama sembilan bulan ini, naik tajam dari Rp861,69 miliar pada periode yang sama tahun lalu, membuat arus kas dari aktivitas investasi defisit Rp2,98 triliun, jauh lebih besar dari defisit Rp887,43 miliar setahun sebelumnya. Kas dan setara kas perusahaan di akhir September 2026 tetap naik menjadi Rp402,3 miliar dari Rp255,78 miliar di akhir 2025, berkat suntikan dana dari pinjaman bank tersebut. Direksi menyampaikan surat penjelasan khusus ke OJK dan BEI karena perubahan pos total aset dan total liabilitas yang melebihi 20 persen wajib dijelaskan sesuai Peraturan Nomor I-E BEI. Surat pernyataan direksi ditandatangani Presiden Direktur Otto Toto Sugiri dan Direktur Evelyn pada 22 Oktober 2026.