PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) menanggapi surat permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia nomor S-13210/BEI.PP1/10-2026 yang diterima 19 Oktober 2026. Dalam suratnya, perusahaan mengonfirmasi ekuitas per 30 Juni 2026 tinggal USD2,50 juta, turun 94,89 persen dari USD48,87 juta per 31 Desember 2025, dengan defisit saldo laba USD110,63 juta. Perusahaan membukukan rugi bersih semester I 2026 sebesar USD49,83 juta, rata-rata USD8,30 juta per bulan, akibat pendapatan yang turun 5 persen menjadi USD692,85 juta karena penurunan aktivitas di sejumlah proyek Indonesia dan penyelesaian kontrak di Indonesia maupun Australia. Kenaikan harga bahan bakar dan biaya perawatan alat yang dipercepat ke kuartal pertama membuat laba bruto hanya USD12 juta, sementara beban keuangan mencapai USD43 juta dan bagian rugi dari entitas asosiasi USD7 juta.

Untuk memperbaiki ekuitas, perusahaan menyebut langkah menambah volume kontrak dengan harga stabil, efisiensi operasional dan biaya umum, serta mengarahkan belanja modal ke proyek yang menambah produktivitas. Perusahaan juga mengungkap bahwa pada 9 September 2026, Asiamet Resources Limited selaku entitas asosiasi menyelesaikan penjualan Indokal Limited, pemegang Proyek Tembaga Kalimantan Surya Kencana di Kalimantan Tengah, kepada Norin Mining (Hong Kong) Limited senilai USD105 juta. Dari transaksi itu, perusahaan mencatat bagian laba entitas asosiasi USD47 juta untuk periode hingga 30 September 2026 yang menambah ekuitas. Manajemen menyatakan telah menilai kelangsungan usaha untuk 12 bulan ke depan dan meyakini grup mampu melanjutkan usahanya.

Soal anak usaha tambang BOLD (PT Bukit Makmur Mandiri Utama), perusahaan menjelaskan dua rasio keuangan per 30 Juni 2026: rasio pembanding laba terhadap beban tetap (Fixed Charge Coverage Ratio) 2,09 kali, sementara batas yang disepakati kreditor 22,5 kali untuk fasilitas Aruna dan 21,1 kali untuk Aruna II, III, serta Sukuk Ijarah. Rasio utang bersih terhadap laba operasional (Net Debt to EBITDA) tercatat 4,79 kali, melebihi batas yang disyaratkan di bawah 4,0 kali. Namun perusahaan menyatakan kedua rasio itu hanya diuji setiap akhir tahun buku berdasarkan laporan keuangan auditan, sehingga tidak ada kewajiban pemenuhan maupun dokumen pengesampingan untuk periode 30 Juni 2026, dan pengujian berikutnya baru berlaku atas laporan keuangan auditan 31 Desember 2026. Perusahaan juga mengakui sebagian besar perjanjian pendanaannya memuat klausul gagal bayar silang, meski pemicu dan masa tenggangnya berbeda tiap perjanjian dan tidak otomatis mempercepat pembayaran.

Mengenai piutang BOLD kepada perusahaan, saldonya USD92,5 juta per 31 Desember 2025, bertambah USD3 juta pada penarikan 2 April 2026 sehingga menjadi USD95,5 juta per 30 Juni 2026. Pinjaman ini tidak berbunga dan tanpa tanggal jatuh tempo sejak 1 Juli 2016, dan perusahaan berencana menyelesaikannya lewat pembayaran tunai termasuk dari dividen yang diterima dari BUMA. Terkait dampak kebakaran hutan dan lahan pada Asiamet Resources, perusahaan menyebut sudah tidak relevan bagi Proyek KSK karena sudah dijual, sedangkan Proyek Tembaga Emas Beutong di Aceh belum terdampak karena masih tahap pra-produksi.