PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melaporkan realisasi penggunaan dana dari tiga tahap Obligasi Berkelanjutan I Energi Mega Persada yang resmi efektif pada 23 Desember 2025. Nilai penerbitan obligasi tahap I sebesar Rp500 miliar, tahap II sebesar Rp1,15 triliun, dan tahap III sebesar Rp500 miliar, sehingga total dana yang dihimpun dari tiga tahap ini mencapai sekitar Rp2,15 triliun. Sebagian dana dipakai untuk mempercepat pembayaran utang perusahaan sendiri, dan sebagian besar lainnya disalurkan sebagai pinjaman kepada anak usaha untuk melunasi utang mereka ke bank serta untuk modal kerja.

Dari obligasi tahap I, realisasi terbesar adalah Rp127,68 miliar atau 25,54 persen yang dipakai membayar lebih awal seluruh pokok utang beserta bunga kepada kreditor KCS1 Pte. Ltd. Perusahaan juga menyalurkan Rp105,22 miliar ke anak usaha PT Bangun Samudra Sarana Laut untuk melunasi utang ke Bank Mandiri, serta memberi pinjaman modal kerja kepada EMP Bentu Limited Rp108,49 miliar, PT Imbang Tata Alam Rp89,34 miliar, PT EMP Energi Gandewa Rp19,14 miliar, PT EMP Energi Riau Rp20,42 miliar, dan PT Energi Maju Abadi Rp10,21 miliar. Sisanya, Rp7,66 miliar, dipakai untuk modal kerja ENRG sendiri.

Dari obligasi tahap II senilai Rp1,15 triliun, porsi terbesar yakni Rp839,94 miliar atau 73,03 persen disalurkan sebagai pinjaman ke PT Imbang Tata Alam untuk melunasi pokok dan bunga fasilitas kredit term loan 2. ENRG juga meminjamkan Rp126,77 miliar ke PT Energi Maju Abadi untuk membayar sebagian utang ke Bank Mandiri, serta Rp90,90 miliar ke EMP Bentu Limited dan Rp35,46 miliar lagi ke Energi Maju Abadi untuk modal kerja. Pada obligasi tahap III senilai Rp500 miliar, dana terbesar yakni Rp210,79 miliar dipakai Energi Maju Abadi untuk melunasi seluruh utangnya ke Bank Mandiri, Rp186,16 miliar untuk modal kerja EMP Bentu Limited, dan Rp97,54 miliar untuk membayar sebagian utang term loan 1 milik Imbang Tata Alam. Realisasi di ketiga tahap ini sudah mencapai 97,63 persen hingga 98,94 persen dari rencana awal, dengan selisih terbesar hanya 1,48 persen akibat penyesuaian kurs pada tanggal realisasi.