Tarunira, usaha rintisan sosial asal Karangasem, Bali, membawa gula lontar buatan petani desa ke Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 sebagai langkah awal menjajaki pasar ekspor. Kehadiran mereka penting karena menunjukkan bagaimana pohon lontar yang selama ini kurang dimanfaatkan bisa diubah menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani di desa yang sebelumnya banyak ditinggalkan generasi muda karena penghasilan pertanian kalah dibanding upah minimum daerah.

Sejak berdiri tahun 2021, Tarunira merangkul lebih dari 60 petani penyadap nira lontar dan puluhan petani singkong di tiga desa di Karangasem, wilayah yang memiliki lebih dari 1.700 hektare hamparan pohon lontar. Menurut perusahaan, pendapatan petani yang sebelumnya hanya sekitar Rp800.000 hingga Rp1.000.000 per bulan naik menjadi lebih dari Rp3.000.000 per bulan setelah mereka dilibatkan dalam proses pengolahan nira menjadi gula bernilai tambah, bukan sekadar menjual bahan mentah. "Kami percaya dengan mengoptimalkan nilai ekonomi dan lingkungan dari pohon lontar, kami tidak hanya sedang memopulerkan jenis gula yang lebih sehat dengan indeks glikemik sangat rendah, tetapi juga turut berkontribusi mengentaskan kemiskinan," kata Founder PT Inovasi Tani Tarunira, I Komang Sukarma.

Produk gula lontar organik rendah indeks glikemik ini telah diuji di laboratorium Institut Pertanian Bogor dan kini dijual di lebih dari 170 toko serta jaringan supermarket seperti Ranch Market, Hypermart, dan Sesa, selain merambah segmen bisnis ke bisnis. Dalam proses produksinya, limbah nira diolah ulang menjadi bio-briket, pupuk organik cair, dan biochar untuk pengolahan air limbah, pendekatan yang menurut perusahaan membuat jejak karbon produksinya jauh lebih rendah dibanding gula tebu konvensional.

Untuk 20 tahun ke depan, Tarunira menargetkan memberdayakan 1.000 warga desa dan mengoptimalkan 10.000 pohon lontar secara berkelanjutan, termasuk memperluas jejaring ke petani lontar di Rote, Nusa Tenggara Timur. Keikutsertaan di TEI 2026 lewat booth 3A-72 ini merupakan yang pertama bagi Tarunira, dengan fokus utama menjajaki peluang ekspor ke Jepang, Eropa, dan Australia, memanfaatkan potensi pasar gula lontar global yang disebut perusahaan mencapai 2,7 juta ton.