Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga minyak mentah dunia berpotensi bergerak dalam rentang US$65,70 hingga US$83,30 per barel pekan ini. Proyeksi tersebut muncul di tengah dinamika geopolitik di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang saat ini menjadi objek negosiasi pengendalian antara Iran dan Oman. Pergerakan di kawasan ini penting dicermati karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia, sehingga ketidakpastian di sana bisa langsung memengaruhi harga energi global.

Menurut Ibrahim, level US$65,70 per barel diperkirakan menjadi area support, sedangkan US$83,30 per barel menjadi resistance. Ia juga memproyeksikan indeks dolar Amerika Serikat bergerak pada rentang 98,90 sebagai support dan 100,50 sebagai resistance dalam periode yang sama. Pergerakan indeks dolar turut relevan karena biasanya berkorelasi dengan arah harga komoditas energi di pasar global.

Sentimen utama datang dari upaya Iran dan Oman mencapai kesepakatan soal pengendalian Selat Hormuz, yang dinilai berpotensi menjadi faktor penggerak penting bagi pasar energi dunia mengingat posisi selat tersebut sebagai jalur perdagangan minyak yang strategis. Namun kesepakatan itu belum tercapai dan situasi di kawasan masih memanas.

Ibrahim menyebut Iran masih melancarkan serangan terhadap kapal tanker Uni Emirat Arab yang melintasi Selat Hormuz, seiring belum adanya kesepakatan resmi antara Iran dan Oman. Insiden tersebut disebut telah dilaporkan ke Amerika Serikat, sementara kapal-kapal tanker UEA tetap melakukan penyeberangan meski risiko serangan masih ada. Kondisi ini menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar minyak dalam waktu dekat.