Kementerian Perdagangan membuka program Hari Ritel Nasional (HRN) 2026 di Bandung pada Senin, 2 November, yang berlangsung hingga 11 November. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengajak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah memperluas pemasaran produknya ke jaringan ritel modern, karena lolos kurasi ritel dianggap jadi bukti produk sudah memenuhi standar kelayakan sekaligus membuka jalan ke pasar ekspor.

Sebagai konteks skala pasar yang ingin disasar, Kemendag menyebut Trade Expo Indonesia 2026 pada 14-18 Oktober lalu mencatat potensi transaksi US$22,94 miliar, sekitar Rp414,13 triliun, dengan porsi khusus UMKM senilai US$510,79 juta. Kemendag juga mengandalkan 46 perwakilan dagang di 33 negara mitra untuk membantu UMKM menembus pasar luar negeri. Sebagai pembanding capaian tahun sebelumnya, HRN 2025 berhasil menjaring hampir 1.000 UMKM melalui kelas pendampingan online, dan sebagian di antaranya berhasil masuk ke gerai ritel anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO).

Dalam acara pembukaan, Mendag Budi Santoso melakukan panggilan video dengan cabang ritel di Belitung, Medan, Manado, dan Jayapura untuk menampung aspirasi soal kebijakan ritel di daerah. Momen utama lainnya adalah penandatanganan Letter of Intent, semacam surat niat awal yang belum mengikat secara kontrak, antara UMKM binaan Kemendag bernama PUKA dan APRINDO. Surat itu menjadi langkah penjajakan agar produk kriya PUKA, yang diproduksi oleh pekerja difabel, bisa masuk ke jaringan ritel modern anggota APRINDO.

Sejumlah pihak lain turut memberi dukungan dalam acara tersebut. Ketua Umum APRINDO Solihin menyatakan asosiasinya siap memperluas kesempatan penjualan produk UMKM lewat jaringan ritelnya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti peran sektor ritel sebagai penyerap tenaga kerja di kotanya, sementara Kepala Badan Standardisasi Nasional Donny Purnomo mengaitkan HRN 2026 dengan Bulan Mutu Nasional untuk memperkuat standar mutu produk.