PT Hino Finance Indonesia (HIFI) menyampaikan koreksi atas laporan realisasi penggunaan dana hasil Obligasi Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2026 kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Koreksi ini merespons surat OJK Nomor S-2439/PM.221/2026 tanggal 23 September 2026 yang menanggapi laporan realisasi periode 30 Juni 2026 milik perseroan. Surat koreksi tertanggal 1 Oktober 2026 ditandatangani Direktur Budi Arifianto Wibisana, sementara pengumuman resminya dikirim 2 Oktober 2026 oleh Corporate Secretary Anastasia Saraswati.
Obligasi ini bernilai Rp800 miliar dan dinyatakan efektif pada 11 Februari 2026. Setelah dipotong biaya penawaran umum sebesar Rp2,947 miliar atau 0,37 persen dari dana yang terkumpul, hasil bersih yang diterima perseroan mencapai Rp797,052 miliar atau 99,63 persen. Berdasarkan laporan realisasi yang ditandatangani Direktur Taiki Onoue dan Direktur Budi Arifianto Wibisana, seluruh dana itu terbagi dua: Rp410,935 miliar atau 51,56 persen digunakan untuk melunasi seluruh pokok Obligasi Berkelanjutan I Hino Finance Indonesia Tahap 1 Tahun 2025 Seri A, yang sudah dibayar lunas pada 30 Maret 2026. Sisanya, Rp386,118 miliar atau 48,44 persen, dipakai sebagai modal kerja, termasuk biaya karyawan, jasa profesional, pajak, biaya keuangan, serta pembiayaan truk dan bus. Per 31 Mei 2026, seluruh dana hasil penawaran umum ini telah habis terpakai, dengan sisa dana nol.
Koreksi yang diajukan menyasar rincian biaya penawaran umum pada Lampiran A. Beberapa pos biaya lembaga penunjang pasar modal, seperti jasa wali amanat, Kustodian Sentral Efek Indonesia, dan Bursa Efek Indonesia, ternyata lebih rendah dari estimasi prospektus karena biaya aktual hanya dihitung untuk periode sekitar 10 bulan sampai satu tahun, bukan lima tahun seperti perkiraan awal. Sebaliknya, beberapa pos lain seperti jasa penyelenggaraan, penjaminan, penjualan, konsultan hukum, dan audit penjatahan justru naik karena ada tambahan pajak pertambahan nilai yang tidak dihitung di estimasi awal. Hasilnya, total biaya aktual Rp2,947 miliar lebih rendah dari estimasi prospektus Rp4,135 miliar, sehingga dana bersih yang direalisasikan sedikit lebih besar dari rencana awal di prospektus.
