Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 36 poin atau 0,55 persen ke level 6.552 pada perdagangan Jumat pagi, 11 September 2026, mengekor pelemahan bursa Asia-Pasifik pada Kamis dan bursa Wall Street pada malam sebelumnya. Pelemahan ini layak dicermati investor karena dipicu dua sentimen global sekaligus, yaitu lonjakan harga minyak dunia dan kekhawatiran The Fed akan menaikkan suku bunga acuan, dua faktor yang biasanya membuat investor asing menarik dananya dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Head of Retail Research Analyst Fanny Suherman memperkirakan pelemahan berlanjut. "Dengan naiknya harga minyak dunia secara signifikan dan potensi The Fed menaikkan suku bunga, IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan hari ini," katanya dalam riset harian. Ia memperkirakan IHSG bergerak dengan batas bawah (support) di rentang 6.530 sampai 6.570 dan batas atas (resistance) di rentang 6.600 sampai 6.620, dua level teknis yang biasa jadi acuan apakah pelemahan akan berhenti atau justru berlanjut.
Pemicu utama datang dari harga minyak. Bursa Asia-Pasifik melemah pada Kamis seiring meningkatnya serangan terhadap jalur pelayaran di tengah meluasnya konflik Timur Tengah. Harga minyak mentah bertahan di atas US$100 per barel, dengan Brent sempat berada di level US$101,4 per barel, sebelum melonjak sekitar 6 persen menjadi US$107 per barel akibat gangguan pasokan lewat Selat Hormuz dan Laut Merah.
Tekanan yang sama menjalar ke Wall Street pada Kamis, di mana S&P 500 turun 0,58 persen, Nasdaq melemah 0,65 persen, dan Dow Jones berkurang 0,60 persen. Yield surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun, yaitu tingkat bunga yang harus dijanjikan pemerintah AS agar investor mau membeli surat utangnya, naik ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir akibat kenaikan harga minyak dan data inflasi produsen. Departemen Keuangan AS juga mengumumkan rencana membeli kembali obligasi jangka panjang senilai US$6 miliar, langkah yang lazim dipakai untuk menambah dana tunai di pasar surat utang, namun jumlahnya dianggap terlalu kecil oleh investor yang berharap pembelian dalam skala lebih besar.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang kompak naik 0,2 persen, sementara KOSPI Korea Selatan melemah 0,25 persen meski KOSDAQ naik 0,8 persen. Hang Seng Hong Kong melemah 1,3 persen, Taiex Taiwan turun 0,5 persen, dan ASX 200 Australia berkurang 1,03 persen. The Fed dan Bank of Japan sama-sama dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada pekan depan.
