Indeks Harga Saham Gabungan melonjak tajam pada penutupan sesi pertama perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026. IHSG naik 208,02 poin atau 4,16 persen ke level 5.204,63, sementara indeks saham-saham unggulan LQ45 melesat 6,40 persen ke 519,73. Kenaikan setajam ini terjadi bukan karena satu sentimen tunggal, melainkan gabungan aksi korporasi dan langkah otoritas pasar modal yang muncul hampir bersamaan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, menyebut salah satu pendorong utama adalah rencana sejumlah emiten melakukan pembelian kembali atau buyback saham mereka, yang menahan tekanan jual di tengah pasar yang masih bergejolak. Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia menyiapkan dua kebijakan baru, yaitu memperluas keterbukaan informasi pemegang saham berafiliasi dengan porsi di atas 1 persen, dan mengeluarkan saham-saham dengan kepemilikan yang terlalu terpusat (High Shareholding Concentration atau HSC) dari perhitungan indeks. Kedua kebijakan ini disiapkan sebagai respons atas evaluasi yang dilakukan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap saham-saham Indonesia.

Sentimen lain yang turut mengangkat optimisme pasar adalah rencana Danantara menambah kepemilikan di saham-saham badan usaha milik negara, terutama bank-bank BUMN. Otoritas Jasa Keuangan dan pemerintah juga menyatakan komitmen menindak dugaan praktik penggerakan harga saham secara terkoordinasi oleh sejumlah pihak, sekaligus memperkuat transparansi pasar modal. Helmy memperkirakan level 5.318 hingga 5.400 akan menjadi area resistance berikutnya, yang sekaligus menjadi ukuran seberapa kuat pemulihan IHSG kali ini.

Aktivitas perdagangan pada sesi pertama tercatat ramai, dengan frekuensi transaksi mencapai 1,63 juta kali dan volume 39,30 miliar lembar saham senilai Rp17,13 triliun. Sebanyak 654 saham menguat, 137 saham melemah, dan 172 saham stagnan, menandakan penguatan terjadi secara luas di berbagai sektor.