Indonesia menjadi negara kehormatan pada Global Digital Trade Expo (GDTE) 2025 yang digelar di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, pada 25-29 September 2025. Ajang ini diikuti peserta dari 121 negara dan dibuka oleh Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang, dengan pidato dari Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Ketua Kabinet Kirgistan Adylbek Kasymaliev. Delegasi Indonesia terdiri dari Digital Transformation Indonesia (DTI Community) yang mencakup Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Smart City, serta asosiasi MASTEL dan IDPRO, yang memanfaatkan forum ini untuk membahas kerja sama perdagangan digital dan kecerdasan buatan dengan negara lain.

Kehadiran Indonesia merupakan kelanjutan dari nota kesepahaman kerja sama perdagangan elektronik yang ditandatangani Kementerian Perdagangan Tiongkok dan Kemenko Perekonomian di Jakarta pada 8 September 2023, serta posisi Indonesia sebagai salah satu pendiri World AI Collaboration Organization (WAICO). Lewat WAICO, negara-negara anggota memperkirakan nilai investasi terkait kecerdasan buatan bisa mencapai US$8 miliar hingga US$12 miliar pada periode 2026-2030. Indonesia dan Tiongkok juga menyepakati kerja sama pengembangan talenta digital, pelatihan untuk institusi pemerintah, pemanfaatan kecerdasan buatan berbasis open source, serta mengundang perusahaan teknologi asal Hangzhou untuk membangun pusat data di Indonesia.

Dalam forum BRICS Special Economic Zones Hangzhou Dialogue, Deputi Bidang Koordinasi Perdagangan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon, yang juga menjabat Plt Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus, mengusulkan lima agenda kerja sama KEK negara-negara BRICS, yaitu koridor investasi hijau dan digital, program tahunan pertukaran regulasi, platform fasilitasi investasi, jejaring pengembangan talenta, serta kerja sama sektor keuangan termasuk konektivitas pembayaran digital. Pada kesempatan yang sama diumumkan pula kerja sama antara Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dengan Hangzhou Economic and Technological Development Area (HEDA). Di sesi Silk Road E-commerce Day, Indonesia mengajukan empat inisiatif kepada Tiongkok, yakni proyek percontohan investasi AI berbasis platform, pelatihan untuk 5.000 talenta AI Indonesia, proyek percontohan inovasi AI di salah satu KEK, dan kemitraan kawasan kembar antara KEK Qiantang dengan KEK Digital Serpong.

Beberapa hari sebelum GDTE berlangsung, pada 23 September digelar pula China Indonesia Industrial Development Exchange Conference atau business matching yang menghasilkan delapan nota kesepahaman dengan perkiraan nilai investasi sekitar US$400 juta. Lima di antaranya mencakup bidang energi baru dan konstruksi pendukung beserta rekayasa lingkungan, pelatihan wirausaha Asia Tenggara di Tiongkok, penghubungan industri dan konsultasi bisnis lintas batas, peralatan cerdas, serta layanan keuangan bagi perusahaan Tiongkok yang berinvestasi di Indonesia. Tiga nota kesepahaman lainnya berupa rencana pembentukan perusahaan patungan di bidang infrastruktur digital berbasis blockchain dan komputasi privat, data terpercaya dan video cerdas, serta konektivitas digital yang meliputi menara telekomunikasi, jaringan nirkabel, komunikasi satelit, dan pusat data.