Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi sepanjang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mencapai Rp3.923,2 triliun. Investasi tersebut menyerap 5.485.944 tenaga kerja, dengan porsi yang hampir berimbang antara Jawa dan luar Jawa. Angka ini jadi salah satu indikator pemerintah untuk menilai sejauh mana investasi benar-benar sampai ke lapangan kerja dan menyebar ke luar pusat ekonomi Jawa, bukan cuma terpusat di beberapa kota besar.

Dari sisi sumber dana, penanaman modal dalam negeri (PMDN) menyumbang Rp1.998,7 triliun atau 50,9 persen dari total investasi dua tahun tersebut, sedikit lebih besar dibanding penanaman modal asing (PMA) yang mencapai Rp1.924,5 triliun atau 49,1 persen. Secara wilayah, luar Jawa menyumbang Rp2.031,0 triliun atau 51,8 persen, sementara Jawa menyumbang Rp1.892,2 triliun atau 48,2 persen.

Khusus sembilan bulan pertama tahun 2026, realisasi investasi tercatat Rp1.539,2 triliun, tumbuh 7,3 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan telah memenuhi 75,4 persen dari target investasi tahun ini sebesar Rp2.041,3 triliun. Investasi pada periode ini menyerap 2.194.496 tenaga kerja, dengan PMA berkontribusi Rp777,8 triliun (50,5 persen) dan PMDN Rp761,4 triliun (49,5 persen). Luar Jawa masih mendominasi dengan Rp779,4 triliun (50,6 persen), sementara Jawa menyumbang Rp759,8 triliun (49,4 persen). Lima provinsi dengan realisasi investasi terbesar adalah DKI Jakarta Rp249,3 triliun, Jawa Barat Rp229,1 triliun, Sulawesi Tengah Rp116,0 triliun, Jawa Timur Rp110,5 triliun, dan Maluku Utara Rp96,0 triliun.

Pada triwulan III 2026 saja, realisasi investasi mencapai Rp528,7 triliun, tumbuh 7,6 persen secara tahunan, terdiri atas PMA Rp270,2 triliun dan PMDN Rp258,5 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja 745.634 orang. Namun pertumbuhannya tidak merata antarwilayah: investasi di Jawa tumbuh 13,9 persen secara tahunan, jauh lebih cepat dibanding luar Jawa yang hanya tumbuh 2,2 persen, meski secara nilai luar Jawa tetap lebih besar yakni Rp271,6 triliun (51,4 persen) dibanding Jawa Rp257,1 triliun (48,6 persen).

Investasi hilirisasi, yakni investasi yang mengolah bahan mentah seperti nikel, bauksit, atau hasil kebun menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi, mencapai Rp480,0 triliun sepanjang Januari-September 2026, tumbuh 11,3 persen secara tahunan dan menyumbang 31,2 persen dari total realisasi investasi nasional. Porsi ini terus naik dari 26 persen pada 2024 menjadi 34 persen pada triwulan III 2026. Sektor mineral jadi penyumbang terbesar dengan Rp335,1 triliun, terdiri atas nikel Rp118,9 triliun, bauksit Rp115,7 triliun, besi baja Rp40,8 triliun, tembaga Rp39,5 triliun, dan pasir silika Rp7,0 triliun. Di luar mineral, hilirisasi juga mencakup perkebunan dan kehutanan Rp83,6 triliun, minyak dan gas bumi Rp54,0 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp7,3 triliun. Sebanyak 78 persen investasi hilirisasi atau Rp373,1 triliun terealisasi di luar Jawa, dengan lima provinsi terbesar yakni Sulawesi Tengah Rp100,4 triliun, Maluku Utara Rp84,1 triliun, Jawa Barat Rp36,9 triliun, Kalimantan Barat Rp35,4 triliun, dan Sulawesi Tenggara Rp27,9 triliun. Pada triwulan III 2026, investasi hilirisasi tumbuh 19,4 persen secara tahunan menjadi Rp179,9 triliun.

Dari sisi asal investasi asing sepanjang Januari-September 2026, Singapura jadi penyumbang terbesar dengan US$14,0 miliar atau 29,6 persen dari total PMA, diikuti Hong Kong US$12,8 miliar, Tiongkok US$5,0 miliar, Amerika Serikat US$3,4 miliar, dan Jepang US$2,6 miliar. Kelima negara ini bersama-sama menyumbang 80,0 persen dari seluruh realisasi investasi asing di Indonesia pada periode tersebut.