Pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) di Jakarta, Senin (12/10), Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menyoroti pentingnya mempererat keterkaitan antara investasi skala besar dengan pelaku usaha menengah, kecil, dan mikro. Ia menilai Indonesia perlu memposisikan diri sebagai basis produksi, bukan sekadar pasar bagi produk asing, di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sebagai gambaran kemajuan investasi, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat realisasi investasi hilirisasi pada semester I 2026 mencapai Rp300,1 triliun, tumbuh 6,9 persen dan menyumbang 29,7 persen dari total investasi nasional. Di sisi penyelesaian hambatan usaha, Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah telah merampungkan 135 dari 190 aduan pelaku usaha per 22 September 2026, termasuk 129 aduan yang mencakup investasi lebih dari Rp625 triliun dan menyerap sekitar 31 ribu tenaga kerja.
Perluasan pasar ekspor juga menjadi fokus, lewat sejumlah perjanjian dagang yang sedang dijalankan pemerintah. Kerja sama ekonomi komprehensif dengan Uni Eropa diklaim membuka akses ke sekitar 15 persen pasar global, sementara kerja sama serupa dengan Kanada berpotensi menambah ekspor hingga US$1,1 miliar. Negosiasi tarif dengan Amerika Serikat disebut berpotensi mendongkrak ekspor hingga US$2,3 miliar per tahun, terutama bagi industri padat karya yang menyerap sekitar 5 juta pekerja.
Dradjad juga menekankan pentingnya akses pembiayaan yang disertai pendampingan agar pelaku usaha kecil bisa naik kelas, dengan mencontohkan pengalaman nasabah PNM Mekaar yang memperoleh pembiayaan tanpa agunan sekaligus pendampingan usaha. Ia berharap penguatan tata kelola dan kepatuhan turut dijaga agar iklim usaha tetap adil bagi pelaku usaha dari berbagai skala.
