PT Indo American Seafoods Tbk (ISEA) menyampaikan jawaban resmi atas permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia bernomor S-11400/BEI.PP1/09-2026, yang mempertanyakan sejumlah pos dalam laporan keuangan interim per 30 Juni 2026, laporan keuangan konsolidasian 2025, dan proyeksi keuangan yang disampaikan saat penawaran umum perdana saham. Surat balasan bernomor 51/PI-IDX/ISEA/CS/IX/2026 ditandatangani Corporate Secretary Gustav, S.H., M.H. pada 10 September 2026.
Salah satu sorotan Bursa adalah anjloknya uang muka pembelian bahan baku sebesar 98,19 persen, dari Rp33,71 miliar per akhir 2024 menjadi Rp610,25 juta per akhir 2025, yang menurut ISEA sudah direalisasikan lewat penerimaan barang di 2025, dengan sisa saldo ke Yeremia Sukamto. Bursa juga menyoroti piutang usaha Perseroan sebesar Rp137,68 miliar per akhir 2025 yang seluruhnya telah jatuh tempo, dibanding tahun sebelumnya saat 99,58 persen dari Rp96,37 miliar piutang justru belum jatuh tempo. ISEA menyatakan pergeseran ini hanya soal sebaran umur piutang, bukan perubahan kebijakan, dan menilai cadangan kerugian penurunan nilai Rp2,52 miliar sudah memadai karena pembeli utama membayar tidak lebih dari 90 hari. Penjualan ke Central Seaway Co., Inc. (Censea), mitra Indokom Group yang sudah berhubungan bisnis 18 tahun, naik dari Rp159,62 miliar (49,48 persen total penjualan) di 2024 menjadi Rp178,72 miliar namun proporsinya turun jadi 31,68 persen di 2025.
Dari sisi biaya, ISEA mengonfirmasi munculnya beban bea keluar (duty) sebesar Rp24,87 miliar di 2025, dari nihil pada 2024, akibat tarif impor Amerika Serikat sekitar 19 persen terhadap produk perikanan asal Indonesia, yang mendorong beban penjualan naik 251,91 persen menjadi Rp57,22 miliar. Biaya anti-dumping juga naik 79,33 persen menjadi Rp10,66 miliar dari Rp5,94 miliar, dan menurut Perseroan sifatnya berulang setiap tahun sehingga akan terus dibebankan ke depan; ISEA berencana memperluas pasar ke negara tanpa tarif anti-dumping seperti Jepang. Perseroan juga memiliki fasilitas pinjaman dari Bank SMBC Indonesia senilai US$14,5 juta sejak 29 Agustus 2025 dengan bunga 6,75 persen untuk dolar dan 8,50 persen untuk rupiah, dengan beban administrasi bank naik 256,78 persen menjadi Rp981,34 juta dan beban provisi naik 146,78 persen menjadi Rp418,36 juta, meski ISEA menegaskan tidak ada penambahan plafon kredit.
Secara keseluruhan, pendapatan ISEA tumbuh 74,92 persen menjadi Rp564,22 miliar di 2025 dari Rp322,56 miliar di 2024, tetapi margin laba kotor turun dari 23,45 persen menjadi 19,84 persen, sementara beban bunga dan keuangan tetap tinggi di Rp18,71 miliar. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) tercatat 138,29 persen, melampaui proyeksi awal 95,84 persen, sedangkan rasio lancar 148,59 persen berada di bawah target 182,53 persen. ISEA juga mengungkap piutang lain-lain ke PT Tambak Udang Baba Rafi sebesar Rp549,73 juta dari sewa tambak udang yang belum berubah sejak 2024, dan menyatakan tidak ada informasi material lain yang belum diungkapkan ke publik.
