Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga menjabat Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, meninjau proyek perluasan Kilang Balikpapan atau Refinery Development Master Plan (RDMP) pada Kamis (22/10). Proyek ini digadang menjadi andalan pemerintah untuk mengurangi impor bahan bakar minyak, sehingga kemajuannya berpengaruh langsung pada seberapa besar Indonesia masih bergantung pada BBM dari luar negeri. Bahlil menyebut pengerjaan fisik kilang sudah mencapai 99 persen, dengan sisa pekerjaan berupa penyesuaian teknis dan uji coba peralatan baru sebelum kilang benar-benar siap beroperasi.
Proyek yang masuk daftar Proyek Strategis Nasional ini menelan investasi US$7,4 miliar, atau sekitar Rp126 triliun, salah satu nilai investasi BUMN terbesar yang ditanamkan di satu lokasi. Setelah beroperasi penuh, kilang ini diproyeksikan mampu memenuhi 22 sampai 25 persen dari total kebutuhan BBM nasional. Bahlil belum menyebutkan tanggal pasti kapan tahap commissioning ini akan selesai dan kilang mulai berproduksi penuh.
Di sisi pasokan, Bahlil memastikan stok BBM nasional masih berada di atas standar minimum. Pertalite, BBM bersubsidi yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, tercatat cukup untuk 16 sampai 18 hari ke depan. Sementara BBM nonsubsidi dengan oktan RON 92, 95, dan 98 memiliki cadangan lebih dari 20 hari, dan kebutuhan solar nasional sudah terpenuhi tanpa impor. Di Kalimantan, ketersediaan BBM tercatat relatif setara dengan rata-rata nasional.
Di lapangan, distribusi BBM sempat terganggu akibat El Nino yang membuat permukaan Sungai Kapuas di Kalimantan Barat menyusut. Pertamina mengatasinya dengan menjadikan kapal sebagai penampungan terapung sementara, sebelum BBM disalurkan lewat jalur darat ke daerah tujuan. Bahlil juga meminta Pertamina mengoptimalkan distribusi BBM bersubsidi agar tepat sasaran, serta meningkatkan pengawasan bersama pemerintah daerah dan aparat TNI/Polri untuk menindak praktik penimbunan.
