Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaporkan bahwa 65 dari 100 kampung nelayan yang dibangun dalam Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tahap pertama sudah beroperasi secara uji coba sejak awal Juni 2026. Selama periode tersebut, menurut KKP, transaksi ikan dari lokasi-lokasi itu mencapai 719 ton dengan nilai Rp18,77 miliar. Angka ini menjadi penanda sejauh mana program infrastruktur perikanan pesisir yang digagas sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai menghasilkan aktivitas ekonomi di lapangan.

Ikan yang diperdagangkan dikirim ke sejumlah pasar domestik, antara lain Jakarta, Kendari, Medan, Surabaya, Bandarlampung, Ternate, dan Dompu. Satu lokasi di Margasari, Lampung, bahkan sudah mengekspor hasil tangkapannya ke China. Komoditas utama yang diperjualbelikan meliputi tuna, cumi, gurita, tongkol, bawal, ikan demersal, dan kakap putih, dengan sebagian diolah lebih lanjut menjadi tuna loin dan tuna fillet sebelum dijual.

Sepanjang 2025, KKP membangun 100 titik KNMP. Sebanyak 65 di antaranya sudah masuk tahap uji coba operasi, sementara 35 sisanya masih menyelesaikan pembangunan fisik. Setiap lokasi dilengkapi dermaga, gudang pendingin, kendaraan berpendingin, sentra kuliner, kios perbekalan, bengkel, dan pabrik es. Di luar fasilitas fisik, KKP mendampingi pengelola mengurus legalitas usaha, melatih administrasi koperasi, pengelolaan rantai dingin, dan literasi keuangan, serta menghubungkan mereka dengan bank Himbara dan bank pembangunan daerah untuk akses pembiayaan.

Tahun ini KKP memulai pembangunan 1.269 lokasi KNMP baru, jauh lebih banyak dari 100 titik tahap pertama. Berbeda dari sebelumnya, pembangunan kali ini memakai konsep hub dan penyangga, sehingga satu lokasi hub bisa melayani sejumlah kampung nelayan di sekitarnya yang terhubung ke sarana dan prasarana yang sama.