Pemerintah melalui Kementerian Koordinasi Perekonomian memantau penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), program kredit bersubsidi bunga rendah dari pemerintah untuk usaha kecil, khusus di sektor perikanan. Fokusnya ada di Desa Awang, kampung nelayan di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tempat Bank Syariah Indonesia (BSI) telah menyalurkan KUR senilai Rp13,6 miliar kepada 160 nelayan. Program ini penting karena menyasar pelaku usaha kecil pesisir yang selama ini sulit menjangkau kredit perbankan formal.
Secara nasional, penyaluran KUR hingga 30 September 2026 mencapai Rp240,96 triliun, tapi porsi untuk sektor perikanan hanya Rp3,73 triliun atau 1,55 persen dari total itu. Di NTB sendiri, total KUR yang disalurkan tercatat Rp4,8 triliun. BSI, sebagai salah satu penyalur KUR syariah terbesar, telah merealisasikan Rp10,39 triliun KUR nasional atau 69,29 persen dari target Rp15 triliun tahun ini, menjangkau hampir 70 ribu peminjam.
Dua kisah peminjam menggambarkan ragam usaha di Desa Awang. Saidi, nelayan yang sudah 15 tahun mengelola penangkapan ikan dan 16 unit rumpon, alat bantu tangkap ikan, dengan lima nakhoda kapal, mendapat KUR Rp250 juta dengan masa pinjaman 48 bulan. Abas Indi, yang 10 tahun menekuni pengumpulan bibit dan budi daya lobster bersama sejumlah nelayan rekanan, memperoleh KUR Rp350 juta dengan masa pinjaman 36 bulan.
Diskusi dengan warga juga menemukan sekitar 80 pembudidaya lobster yang tergabung dalam kelompok usaha, namun belum semuanya menjadi peminjam BSI, dengan kebutuhan modal diperkirakan Rp50 juta per orang. Di sisi lain, nelayan Desa Awang masih menghadapi kendala di luar modal, seperti belum tersedianya fasilitas penyimpanan dingin dan tempat pengolahan ikan di Lombok Tengah, sehingga sebagian hasil tangkapan justru dijual ke Lombok Timur. Biaya perizinan pemanfaatan ruang laut untuk budi daya juga masih jadi beban tambahan bagi pelaku usaha.
