Lionmesh Prima Tbk (LMSH), produsen weldmesh berbahan besi dan baja asal Cakung, Jakarta Timur, menyampaikan laporan keuangan tahunan versi koreksi untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025 kepada Bursa Efek Indonesia. Laporan diaudit oleh KAP Teramihardja, Pradhono & Chandra dengan opini wajar tanpa modifikasian, ditandatangani partner Heru Kusdandaru yang sudah menangani akun ini lima tahun berturut-turut. Penjualan Perseroan naik menjadi Rp96,24 miliar dari Rp91,62 miliar pada 2024, dan laba bruto melonjak menjadi Rp4,98 miliar dari hanya Rp458,21 juta setahun sebelumnya. Meski begitu, Perseroan masih mencatat rugi bersih tahun berjalan Rp4,81 miliar, menyusut dari rugi Rp7,48 miliar pada 2024, setara rugi per saham dasar Rp50, membaik dari Rp78 pada tahun sebelumnya.
Di sisi liabilitas, Perseroan mengirim surat penjelasan resmi ke BEI karena total liabilitasnya turun lebih dari 20 persen, dari Rp21,17 miliar pada akhir 2024 menjadi Rp15,99 miliar pada akhir 2025, selisih Rp5,18 miliar atau 24,48 persen. Menurut Direktur Utama Lawer Supendi dalam surat tertanggal 31 Maret 2026, penurunan itu terutama berasal dari pelunasan utang usaha ke pemasok yang turun 52,43 persen atau Rp2,9 miliar menjadi Rp2,63 miliar, uang muka pelanggan yang turun 75,93 persen atau Rp1,41 miliar menjadi Rp447,93 juta karena barang sudah dikirim dan diakui sebagai pendapatan, serta utang pajak yang turun 83,91 persen atau Rp316,09 juta menjadi Rp60,6 juta setelah PPN tahun 2024 dilunasi. Total aset Perseroan ikut menyusut dari Rp119,11 miliar menjadi Rp108,70 miliar, sementara kas dan setara kas turun dari Rp37,17 miliar menjadi Rp28,37 miliar.
Laporan arus kas menunjukkan aktivitas operasi Perseroan menggunakan kas neto Rp9,95 miliar sepanjang 2025, berbalik dari tahun sebelumnya yang justru menghasilkan kas neto Rp8,39 miliar dari operasi. Aktivitas investasi menyumbang kas masuk Rp765,71 juta, terutama dari pencairan deposito berjangka Rp6,39 miliar. Ekuitas Perseroan turun dari Rp97,93 miliar menjadi Rp92,71 miliar sejalan dengan akumulasi rugi, dan jumlah karyawan tetap berkurang dari 59 menjadi 57 orang. Perseroan tercatat di papan Pemantauan Khusus BEI, dengan pemegang saham pengendali berstatus badan hukum asing.
