PT Emdeki Utama Tbk (MDKI) menyampaikan laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum perdana (IPO) per 30 Juni 2026. Perusahaan mengoreksi laporan sebelumnya yang terbit 15 Juli 2026, namun koreksi itu hanya menambahkan versi bahasa Inggris tanpa mengubah angka. Dari total dana IPO Rp184,35 miliar dengan biaya emisi Rp9,06 miliar, hasil bersih yang diterima perseroan tercatat Rp175,29 miliar. Hingga akhir Juni 2026, dana yang sudah terpakai sebesar Rp112,31 miliar atau 64,07 persen dari hasil bersih, sementara sisanya Rp62,98 miliar atau 35,93 persen masih ditempatkan dalam deposito di Bank BRI berjangka tiga bulan dengan bunga 4,5 persen kepada pihak ketiga.

Rincian lima rencana penggunaan dana menunjukkan progres yang timpang. Pembangunan pabrik ferro silica yang semula dianggarkan Rp29,67 miliar (16,93 persen dari dana) baru terealisasi Rp5,19 miliar (2,96 persen). Pembangunan pabrik carbide desulphuriser di Cilegon yang dianggarkan Rp38,50 miliar (21,96 persen) belum terealisasi sama sekali alias nol rupiah. Sebaliknya, tiga pos lain sudah terpakai penuh sesuai rencana: pabrik carbide desulphuriser di Gresik Rp9,89 miliar (5,64 persen), modal kerja produksi kalsium karbida Rp22,23 miliar (12,68 persen), dan modal disetor untuk anak usaha PT Emde Plast Utama Rp74,99 miliar (42,79 persen).

Dokumen lampiran berupa surat dan laporan progres yang ditandatangani Direktur Vincent Secapramana menjelaskan alasan dua proyek itu mandek. Berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2 Juni 2026, pembangunan pabrik carbide desulphuriser tahap II di Cilegon tetap ditunda sambil menunggu perkembangan positif industri baja di kawasan tersebut. Proyek pabrik ferro silica juga ditunda karena perseroan menilai risikonya tinggi: biaya investasi ternyata lebih mahal dari alokasi awal, sementara biaya produksi yang bergantung pada bahan baku impor dan energi dinilai tidak sebanding dengan harga jual produk ferro silica yang rendah. Sementara itu, pabrik carbide desulphuriser di Gresik dilaporkan sudah rampung 100 persen dan beroperasi normal. Laporan penggunaan dana ini ditandatangani secara elektronik oleh Direktur Yudi Cahyono.