PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjawab surat permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia tertanggal 13 Oktober 2026 terkait meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Perseroan mengonfirmasi melalui entitas anak memiliki aset minyak dan gas di Aceh, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Utara, serta aset ketenagalistrikan di Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Perseroan menyebut aset-aset tersebut berkontribusi signifikan terhadap produksi dan pendapatan konsolidasian, tanpa merinci angka baru karena sudah diungkapkan secara berkala lewat laporan keuangan dan laporan tahunan.

Terkait dampak langsung, Medco menyatakan hanya ada penyesuaian logistik tertentu akibat karhutla, tanpa dampak material terhadap operasional maupun program kerja. Target produksi dan target operasional 2026 dikatakan tetap sesuai rencana, tidak ada unplanned shutdown di lokasi operasi, dan perseroan belum mengidentifikasi dampak material terhadap pendapatan, laba, atau nilai aset. Medco juga menegaskan tidak sedang menghadapi proses hukum atau sanksi administratif seperti penyegelan lahan, penyelidikan, atau pencabutan izin terkait karhutla.

Soal mitigasi, Medco menjelaskan keikutsertaannya dalam Satgas Karhutla di Kecamatan Lais dan Babat, Kabupaten Musi Banyuasin, termasuk dukungan pemadaman dalam radius 5 kilometer dari fasilitas operasi, bantuan sarana pemadam kebakaran, dan pengerahan tim pemadam perusahaan sendiri. Di wilayah operasi Medco Bangkanai, perseroan bekerja sama dengan Manggala Agni Barito Utara membentuk kelompok Masyarakat Peduli Api di Desa Karendan dan Haragandang yang berbatasan langsung dengan fasilitas tersebut. Pada 2026, bersama KPH Barito Hulu, Medco melakukan sosialisasi, patroli antisipasi, dan pemasangan imbauan pencegahan di kedua desa itu, dengan rencana melanjutkan kerja sama serupa ke depan.