City Retail Developments Tbk (NIRO), yang sebelumnya bernama PT Nirvana Development Tbk, menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang telah ditelaah secara terbatas oleh KAP Purwanto Susanti dan Surja, anggota jaringan Ernst & Young, untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026. Partner penanggung jawab, Edward Dharmadi, memberikan opini wajar tanpa modifikasian atau pengecualian atas laporan bertanggal 18 September 2026. Pendapatan perusahaan naik dari Rp728,79 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp817,77 miliar pada semester I 2026, mendorong laba bruto naik dari Rp359,30 miliar menjadi Rp418,97 miliar.
Meski penjualan tumbuh, laba usaha nyaris stagnan di Rp182,95 miliar, turun tipis dari Rp184,89 miliar tahun sebelumnya, karena tergerus kerugian selisih kurs yang melonjak dari Rp23,02 miliar menjadi Rp112,18 miliar. Akibatnya, rugi bersih periode berjalan melebar dari Rp191,36 miliar menjadi Rp237,59 miliar, dan rugi komprehensif melebar dari Rp180,47 miliar menjadi Rp257,07 miliar. Rugi per saham dasar ikut bertambah dari minus Rp3,09 menjadi minus Rp4,23 per lembar.
Di sisi neraca, total aset turun tipis 0,35 persen menjadi Rp14,33 triliun, sementara total liabilitas naik 2,15 persen menjadi Rp9,80 triliun, sesuai surat penjelasan yang diteken Direktur Utama Iwan Sanyoto kepada Bursa Efek Indonesia karena perubahan itu masih di bawah ambang 20 persen yang mewajibkan penjelasan rinci. Kas dan setara kas naik signifikan dari Rp684,42 miliar menjadi Rp1,23 triliun, tapi porsi utang bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun ke depan melonjak dari Rp446,27 miliar menjadi Rp1,39 triliun, seiring utang bank jangka panjang di luar bagian jatuh tempo itu turun dari Rp6,40 triliun menjadi Rp5,62 triliun. Total ekuitas ikut menyusut dari Rp4,79 triliun menjadi Rp4,53 triliun, seiring defisit yang terus bertambah dari Rp863,54 miliar menjadi Rp957,40 miliar.
