PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (ANHI, kode saham PACK) menyampaikan materi Public Expose Insidentil ke Bursa Efek Indonesia, merujuk pada surat pengantar bernomor 002/DIR-ANHI/IX/2026 tanggal 9 September 2026. Dokumen bertanda tangan elektronik itu ditandatangani Direktur Donnie Holman Partogi Manurung dan mencantumkan bahwa paparan publik ini digelar atas dasar sukarela, bukan permintaan Bursa maupun OJK. Materi memaparkan transformasi perusahaan dari bisnis kemasan, PT Solusi Kemasan Digital yang melantai di bursa Februari 2023, menjadi induk investasi tambang nikel setelah diakuisisi PT Eco Energi Perkasa pada Oktober 2024, berganti nama Januari 2025, melepas bisnis kemasannya pada Juni 2025, lalu mengakuisisi sebagian saham dua perusahaan tambang nikel pada September 2025.
Dua aset inti yang kini dipegang ANHI adalah PT Konutara Sejati dan PT Karyatama Konawe Utara, keduanya berlokasi di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. PT Konutara Sejati memiliki luas area 3.119 hektare dengan target produksi RKAB 2026 sebesar 6 juta ton dan izin usaha pertambangan (IUPOP) berlaku hingga 2035, sementara PT Karyatama Konawe Utara memiliki luas 1.923 hektare, target RKAB 2026 sebesar 4 juta ton, dan IUPOP berlaku hingga 2049, dengan opsi perpanjangan pada keduanya. Struktur kepemilikan yang dipaparkan menyebut lima anak usaha, yaitu PT Adhi Prakarsa Raya, PT Awal Kemuliaan Indonesia, PT Gemilang Padma Raya, PT Daya Unggul Raya, dan PT Sumber Cahaya Raya, sebagai kendaraan investasi ANHI menuju dua tambang tersebut, dengan H. Samsudin Andi Arsyad tercatat menguasai 21,11 persen saham perseroan di luar porsi publik. ANHI sendiri memegang 34,50 persen saham PT Konutara Sejati dan 30 persen saham PT Karyatama Konawe Utara. Susunan direksi mencantumkan Fu Pei Wen sebagai Direktur Utama, Donnie Holman Partogi Manurung dan Wang Feng sebagai Direktur, sedangkan jajaran komisaris diisi Magdalena Veronika sebagai Komisaris Utama dan Drs. Endang Sutisna sebagai Komisaris Independen.
Materi juga memuat kinerja keuangan semester I 2026 dibanding semester I 2025. Penjualan bersih melonjak dari Rp20,5 miliar menjadi Rp213,0 miliar, naik 937 persen. Laba kotor naik 89 persen menjadi Rp6,3 miliar, namun marjin laba kotornya justru menyusut dari 16 persen menjadi 3 persen. Laba usaha atau EBIT berbalik menjadi minus Rp12,3 miliar dari sebelumnya untung Rp3,4 miliar, sehingga marjin EBIT turun dari 16 persen menjadi minus 6 persen. Meski begitu, laba bersih tercatat melonjak 1.429 persen menjadi Rp190,7 miliar dari rugi Rp14,4 miliar setahun sebelumnya, dengan marjin laba bersih mencapai 90 persen.
Dari sisi neraca, total aset ANHI naik 76 persen dari Rp2.999,6 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp5.268,5 miliar pada semester I 2026, sementara total liabilitas anjlok 97 persen dari Rp2.894,1 miliar menjadi Rp73,9 miliar. Total ekuitas melonjak dari Rp105,5 miliar menjadi Rp5.194,5 miliar. Arus kas dari aktivitas operasi naik menjadi Rp155,2 miliar dari Rp15,4 miliar, sedangkan arus kas untuk aktivitas investasi mencatat arus keluar Rp4.001,9 miliar, jauh lebih besar dari Rp0,4 miliar setahun sebelumnya, terutama untuk penyertaan pada entitas tambang. Arus kas dari aktivitas pendanaan mencatat arus masuk Rp4.897,7 miliar dari sebelumnya Rp16,3 miliar, sehingga kas dan setara kas di akhir periode naik menjadi Rp805,9 miliar dari Rp4,8 miliar.
