Kementerian Perdagangan melalui paviliun Indonesia Bonded Zone memfasilitasi pelaku industri Kawasan Berikat untuk berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41, yang berlangsung 15-16 Oktober 2026. Selama dua hari penyelenggaraan, paviliun ini mencatat minat dari 16 perusahaan untuk memanfaatkan status Kawasan Berikat atau Pusat Logistik Berikat (PLB), dengan potensi investasi yang menurut Kementerian Perdagangan mencapai sekitar Rp5 triliun. Kawasan Berikat adalah status khusus dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang memberi keringanan pajak dan bea masuk bagi perusahaan yang mengolah bahan baku impor untuk diekspor kembali, sedangkan PLB berfungsi sebagai gudang transit barang impor dan ekspor dengan fasilitas serupa. Bagi pelaku usaha manufaktur berorientasi ekspor, status ini berarti biaya produksi yang lebih ringan karena sebagian pajak dan bea masuk ditangguhkan selama barang belum dijual di pasar domestik.

Dari 16 perusahaan yang berminat, 13 perusahaan tertarik membuka Kawasan Berikat dan tiga perusahaan berminat membuka PLB. Sektor yang terlibat beragam, antara lain baja, farmasi, alas kaki, pakan ternak, rekondisi kendaraan roda empat, dan tekstil. Selain potensi investasi tersebut, pameran ini juga mencatat transaksi senilai sekitar Rp2 miliar atau setara US$110 ribu. Paviliun seluas 72 meter persegi ini merupakan hasil kerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat (APKB), menampilkan lima booth yakni APKB, PT Kewalram Indonesia (dua booth), PT Lami Packaging Indonesia, dan PT Tokki Engineering and Fabrication, berlokasi di hall 7 booth 7-5.

Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat (APKB), organisasi nirlaba yang menaungi perusahaan berstatus Kawasan Berikat, mencatat memiliki 735 perusahaan anggota hingga 2026. Lewat TEI 2026, asosiasi ini berharap menambah anggota baru sekaligus memperluas pemahaman pelaku usaha tentang fasilitas Kawasan Berikat, PLB, dan Gudang Berikat.

Capaian ini muncul di tengah kinerja ekspor manufaktur Indonesia yang tercatat US$94,01 miliar pada Januari-Agustus 2026, naik 7,91 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Namun nilai impor pada periode yang sama tumbuh lebih cepat, mencapai US$117,89 miliar atau naik 16,22 persen. Tiongkok menjadi tujuan ekspor utama dengan pangsa 21,17 persen, diikuti Amerika Serikat 16,52 persen, Jepang 5,70 persen, India 5,29 persen, dan Vietnam 4,34 persen.