PT Pollux Hotels Group Tbk (POLI) menggelar public expose tahunan pada Kamis, 8 Oktober 2026, pukul 10.30 hingga 11.00 WIB melalui aplikasi Zoom. Acara ini dihadiri 9 pihak eksternal, yakni investor individu bernama Daniel, Gilang Dewanda, Muhammad Malkhudzi, Merinda, SJ Kiswa Shobirin, Rindi, Tyo Ferdian, Nael, dan Beatrice, ditambah satu karyawan Pollux bernama Arum Agustin. Dari sisi manajemen, hadir Direktur Utama Handojo Koentoro Setyadi, Direktur Aswin Desmonda Rosidi, dan Corporate Secretary Rangga Satrio Utomo.

Dalam sesi tanya jawab, investor bernama Daniel mempertanyakan kenapa laba perseroan selama 18 bulan terakhir tidak sejalan dengan arus kas operasi yang negatif dan kas yang menyusut, serta meminta kejelasan soal penggunaan dana obligasi berkelanjutan senilai Rp500 miliar. Direktur Aswin Desmonda Rosidi menjawab bahwa arus kas secara umum dipakai untuk kebutuhan operasional dan pembayaran kewajiban ke bank, sementara dana obligasi Rp500 miliar memang dialokasikan khusus untuk membayar kewajiban kepada Bank Mandiri sesuai rencana penggunaan dana yang telah ditetapkan, tanpa merinci angka arus kas itu sendiri.

Soal rencana kerja sama dengan Accor, Marriott, dan Wyndham Hotels & Resorts (termasuk merek Baymont), manajemen menegaskan ini bukan ekspansi melainkan kerja sama operator, di mana properti yang sudah dimiliki Pollux akan dioperasikan pihak mitra. Jumlah kamar dan nilai investasi dari kerja sama ini tidak disebutkan. Manajemen juga mengakui segmen hotel dan mal, yang selama ini jadi produk andalan, cenderung turun dan stagnan, sementara pertumbuhan justru berasal dari segmen developer yang transaksinya baru tercatat setelah akta jual beli (AJB) selesai.

Untuk kinerja keuangan, manajemen memaparkan bahwa hingga akhir Juni 2026 perseroan membukukan pendapatan usaha Rp297.002.950.000, laba bruto Rp140.461.420.000, dan laba tahun berjalan Rp57.788.380.000. Direktur Utama Handojo Koentoro Setyadi juga menjelaskan bahwa pertahanan peringkat idAAA dari Pefindo ditopang oleh disiplin pengelolaan keuangan dan likuiditas, penguatan portofolio serta kemitraan global, manajemen risiko yang ketat, dan efisiensi operasional.