Kementerian Perdagangan memfasilitasi 38 pelaku usaha industri kreatif berbasis kekayaan intelektual, meliputi komik, animasi, dan gim, dalam forum bisnis Jakarta Futura Connectiva (JFC) 2026 yang berlangsung 3-4 Oktober di JIEXPO Kemayoran. Menurut Kemendag, forum tersebut menghasilkan potensi transaksi senilai US$195 ribu atau sekitar Rp3,51 miliar, naik 56,8 persen dibandingkan potensi transaksi pada penyelenggaraan 2025 yang tercatat US$125 ribu atau sekitar Rp2,24 miliar. Nilai ini berasal dari pertemuan bisnis awal, kesepakatan kerja sama, dan penjualan langsung selama pameran berlangsung, bukan dari transaksi ekspor yang sudah terealisasi.
Dari 38 peserta yang difasilitasi Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, rinciannya adalah 19 pelaku komik, 15 pelaku animasi, dan 4 pelaku industri gim. Pemerintah menyediakan stan seluas 20 meter persegi dan area pertemuan bisnis (business lounge) seluas 16 meter persegi untuk mendukung peserta. JFC sendiri merupakan forum bisnis tahun ketiga yang mempertemukan studio, penerbit, dan pemilik hak kekayaan intelektual dengan pembeli, agen lisensi, serta investor dari dalam dan luar negeri, dan pada 2026 digelar bersamaan dengan Indonesia Comic Con.
Direktur Jenderal PEN Kemendag, Fajarini Puntodewi, menyebut hasil ini sebagai bukti peluang pengembangan kekayaan intelektual Indonesia sebagai sumber ekspor baru, di luar ekspor produk fisik. Ia mendorong agar pertemuan bisnis dalam JFC tidak berhenti di tahap perkenalan, tetapi berlanjut menjadi negosiasi, kerja sama lisensi, produksi bersama, distribusi, investasi, hingga transaksi ekspor yang konkret.
Secara terpisah, data Bank Indonesia menunjukkan ekspor jasa Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$42,52 miliar, naik dari US$39,09 miliar pada 2024. Pada semester I 2026, ekspor biaya penggunaan kekayaan intelektual tercatat sekitar US$97 juta dan ekspor jasa personal, kultural, serta rekreasi sekitar US$164 juta, dengan total gabungan sekitar US$261 juta atau naik 38,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Rizqi R. Mosmarth dari Asosiasi Komik Indonesia (AKSI) menilai JFC membuka ruang kolaborasi bagi pelaku industri kreatif yang sebelumnya cenderung berjalan terpisah.
