PT PP Properti Tbk (PPRO) menyampaikan koreksi atas laporan keuangan interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, yang diteken manajemen pada 20 Oktober 2026. Pendapatan usaha perseroan naik 8,8 persen menjadi Rp251,30 miliar, dari Rp230,97 miliar pada periode yang sama tahun 2025, dan laba kotor naik dari Rp7,08 miliar menjadi Rp8,49 miliar. Namun perseroan mencatat rugi bersih Rp298,34 miliar, melonjak dari rugi Rp47,26 miliar pada sembilan bulan pertama 2025. Rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp291,06 miliar, sehingga rugi per saham dasar membesar dari Rp0,63 menjadi Rp4,94 per saham.
Pembengkakan rugi ini terutama didorong oleh pos penghasilan (beban) lain-lain yang berbalik arah, dari untung Rp136,66 miliar pada 2025 menjadi beban Rp146,12 miliar pada 2026, meski beban keuangan justru turun dari Rp141,41 miliar menjadi Rp110,20 miliar. Di sisi posisi keuangan, jumlah aset PPRO turun menjadi Rp10,46 triliun per akhir September 2026, dari Rp10,67 triliun pada akhir 2025, sementara jumlah liabilitas naik dari Rp4,52 triliun menjadi Rp4,62 triliun. Jumlah ekuitas turun dari Rp6,14 triliun menjadi Rp5,85 triliun, seiring akumulasi rugi yang belum ditentukan penggunaannya membesar dari Rp7,77 triliun menjadi Rp8,06 triliun.
Dari sisi arus kas, kegiatan operasional menghasilkan kas bersih Rp69,32 miliar, berbalik dari posisi negatif Rp1,01 miliar pada periode yang sama tahun lalu, didorong penerimaan dari pelanggan sebesar Rp323,99 miliar. Perseroan menggunakan kas Rp59,94 miliar untuk kegiatan pendanaan, terutama untuk membayar beban keuangan Rp31,22 miliar dan mencicil utang bank Rp28,72 miliar, sehingga kas dan setara kas perseroan naik tipis menjadi Rp89,22 miliar pada akhir September 2026, dari Rp83,18 miliar pada akhir 2025. Jumlah saham PPRO yang beredar tidak berubah, tetap 61.675.671.883 saham dengan nilai nominal Rp25 per saham.
