PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatat realisasi penyaluran pupuk bersubsidi sebanyak 6.636.460 ton per 16 September 2026, atau sekitar 67 persen dari total alokasi nasional tahun ini sebesar 9,8 juta ton. Angka ini penting karena menjadi salah satu indikator kesiapan pasokan pupuk menjelang musim tanam Oktober 2026 hingga Maret 2027, periode tanam utama bagi petani di berbagai daerah.
Dari alokasi 9,8 juta ton tahun ini, pemerintah mengalokasikan 9,55 juta ton untuk sektor pertanian dan 295.676 ton untuk sektor budi daya ikan. Dengan realisasi penyaluran baru mencapai 67 persen, masih ada sisa alokasi sekitar 3,16 juta ton yang perlu disalurkan untuk menutupi kebutuhan hingga akhir tahun, termasuk periode awal musim tanam yang biasanya membutuhkan pasokan pupuk dalam jumlah besar.
Sebagai penyangga, Pupuk Indonesia melaporkan stok pupuk sekitar 1,7 juta ton per 16 September 2026, terdiri dari 1,30 juta ton pupuk subsidi dan 454.731 ton pupuk nonsubsidi. Perusahaan juga menyebut kapasitas produksi terpasang sebesar 14,8 juta ton per tahun, namun secara eksplisit menyatakan angka tersebut adalah kapasitas, bukan realisasi produksi aktual hingga September 2026.
Untuk menjaga keandalan produksi, perusahaan menyebut tengah melakukan revitalisasi sejumlah fasilitas pabrik yang sudah berusia lama serta memakai sensor dan pemantauan berbasis data pada proses produksinya. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya menjaga fasilitas tetap beroperasi normal menjelang periode permintaan tinggi pada musim tanam mendatang.
