Menteri Perdagangan Budi Santoso bertemu dengan Menteri Perdagangan, Industri, Tenaga Kerja, dan Imigrasi Kepulauan Solomon, Harry Kuma, di sela Trade Expo Indonesia ke-41 di ICE BSD City, Tangerang, Jumat (16/10/2026). Dalam pertemuan itu, kedua negara membahas cara memperkuat hubungan dagang dan investasi, termasuk usulan membangun forum dialog perdagangan antarpemerintah setiap dua tahun. Pertemuan ini jadi penanda upaya Indonesia menjajaki pasar yang selama ini belum banyak digarap, di luar negara mitra dagang utama.

Secara statistik, Kepulauan Solomon masih menjadi mitra dagang kecil bagi Indonesia, berada di peringkat ke-126 sebagai tujuan ekspor nonmigas dan ke-100 sebagai sumber impor nonmigas Indonesia. Pada Januari-Agustus 2026, total perdagangan kedua negara tercatat US$43,8 juta, terdiri dari ekspor Indonesia sebesar US$15,6 juta dan impor dari Solomon sebesar US$28,2 juta. Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 ekspor Indonesia ke Solomon mencapai US$26,8 juta, sementara impornya hanya US$14,0 juta.

Produk unggulan ekspor Indonesia ke Solomon antara lain lemak dan minyak nabati maupun hewani, olahan tepung, makanan olahan, tembakau, serta sabun dan bahan pembersih. Sebaliknya, impor Indonesia dari Solomon didominasi bijih, kerak, dan abu logam, kakao dan cokelat, mesin serta peralatan listrik, mesin dan pesawat mekanik, hingga buku dan barang cetakan. Budi menyebut produk turunan kelapa sawit, kopi, gula, dan pangan olahan punya peluang untuk memperluas penetrasi pasar di Solomon.

Untuk mendorong kerja sama itu, kedua negara sepakat memperkuat hubungan antarpelaku usaha lewat promosi dagang, pertemuan bisnis, pertukaran delegasi, misi dagang, serta kerja sama antarkamar dagang. Turut mendampingi Budi dalam pertemuan itu, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Johni Martha dan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Fajarini Puntodewi.