PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), anak usaha holding gula milik negara, menegaskan komitmennya memperkuat kemitraan dengan petani tebu melalui program bernama Calon Petani dan Calon Lokasi atau CPCL. Lewat program ini, perusahaan menyaring dulu siapa petani dan lahan mana yang berhak menerima bantuan, pendampingan, dan evaluasi, bukan membagikannya begitu saja ke semua petani tebu mitra. Langkah ini penting karena target swasembada gula nasional sangat bergantung pada seberapa produktif petani tebu di lapangan, bukan hanya efisiensi pabrik.

Direktur Utama SGN, Mahmudi, mengatakan keberhasilan industri gula semestinya tidak hanya dilihat dari banyaknya gula yang diproduksi, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan petani dan warga di sekitar pabrik. Ia menyebut efisiensi operasional pabrik perlu berjalan beriringan dengan produktivitas tebu dan kesejahteraan petani sebagai bagian dari rantai pasok gula nasional.

Sekretaris Perusahaan SGN, Yunianta, menambahkan bahwa komitmen tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan harus terlihat dalam langkah nyata dan hasil yang bisa diukur, bukan sekadar jadi prinsip di atas kertas. Ia menyinggung PG Mojo di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, sebagai salah satu unit usaha yang diharapkan terus memberi kontribusi bagi daerah lewat budidaya tebu, penyerapan tenaga kerja, dan perputaran ekonomi masyarakat sekitar.

SGN sendiri adalah subholding gula PT Perkebunan Nusantara III yang berdiri pada 17 Agustus 2021 dan mengonsolidasikan puluhan pabrik gula di bawah Grup PTPN beserta entitas terkait. Konsolidasi ini menjadi bagian dari upaya penguatan produksi dan kemitraan petani untuk mendukung target swasembada gula nasional.