Yagi Forest, usaha perawatan tubuh asal Aceh yang mengolah bahan dari hutan Indonesia, ikut ambil bagian dalam Trade Expo Indonesia (TEI) untuk menjajaki kerja sama dengan distributor dan mitra bisnis luar negeri. Langkah ini melanjutkan rangkaian pameran internasional yang sebelumnya diikuti Yagi Forest, yakni MIHAS di Malaysia, Osaka Expo di Jepang, dan OHEC di Oman. Bagi pembaca, kasus ini menunjukkan bagaimana UMKM berbasis kekayaan alam daerah bisa diarahkan pemerintah untuk menembus pasar ekspor lewat ajang pameran dagang.
Produk Yagi Forest memakai bahan alami yang diambil dari berbagai daerah, antara lain serbuk kopi gayo, kemiri, dan cengkeh dari Aceh, kayu manis dari Kerinci, kenanga dari Jawa, merica hitam dari Halmahera, serta bunga magnolia dari Bali. Seluruh bahan ini menurut perusahaan dibudidayakan bersama petani lokal dengan pola tanam campuran yang menjaga fungsi hutan, bukan dibuka sebagai lahan monokultur. Perusahaan juga mengklaim produknya menggantikan lebih dari 1.500 kilogram bahan kimia keras dan pencemar air, menolak 418 kilogram bahan mikroplastik, serta mencegah 198 kilogram bahan kimia pengganggu hormon masuk ke dalam produknya, meski angka-angka ini adalah klaim internal perusahaan dan belum diverifikasi pihak independen.
Dari sisi bisnis, Yagi Forest menyatakan sudah mengantongi sertifikasi BPOM, yakni izin keamanan produk dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, dan mengaku sebagai pabrik kosmetik pertama di Aceh yang meraihnya, dengan kapasitas produksi 10.000 produk per bulan. Selain menjual dengan mereknya sendiri, perusahaan ini juga membuka jasa produksi untuk merek lain, memasok hotel, agen wisata, dan spa.
Pendiri Yagi Forest, Farhaniza, mengatakan tantangan terbesar di awal usaha adalah meyakinkan konsumen bahwa produk berbahan alami tetap bisa memenuhi standar kualitas dan keamanan. Ia berharap keikutsertaan di TEI membuka jalur kemitraan baru sekaligus memberi gambaran lebih jelas tentang kebutuhan pasar internasional untuk produk kecantikan berkelanjutan.
