Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 mencatat surplus USD3,55 miliar, melonjak tajam dari surplus USD0,12 miliar pada Juli, menurut data Kementerian Perdagangan. Pelebaran surplus ini relevan bagi perekonomian karena menunjukkan aliran dolar bersih yang masuk ke dalam negeri, faktor yang ikut memengaruhi nilai tukar rupiah dan cadangan devisa. Kenaikan tersebut ditopang surplus sektor nonmigas sebesar USD6,09 miliar yang menutup defisit sektor migas USD2,54 miliar.

Ekspor Agustus tercatat USD26,61 miliar, naik 1,51 persen dibanding Juli dan 6,72 persen dibanding Agustus 2025. Namun kenaikan ekspor nonmigas secara bulanan hanya 0,75 persen, sementara sebagian besar lonjakan ekspor berasal dari sektor migas yang naik 25,98 persen. Di sisi lain, impor justru turun 11,63 persen dibanding Juli menjadi USD23,06 miliar, dengan penurunan terdalam pada barang modal, yakni mesin dan peralatan produksi, sebesar 16,04 persen, disusul bahan baku dan penolong 11,11 persen, serta barang konsumsi 5,95 persen.

Angka BPSNeraca perdagangan
3,55 miliar US$Agustus 2026

Selisih ekspor dikurangi impor. Positif berarti surplus. Naik 3,43 miliar US$ dibanding Juli 2026. Naik 3 periode beruntun. Posisinya di atas rata-rata 12 bulan terakhir (1.755,67).

Maret 2024: 4,60 miliar US$April 2024: 2,70 miliar US$Mei 2024: 2,94 miliar US$Juni 2024: 2,52 miliar US$Juli 2024: 0,67 miliar US$Agustus 2024: 2,76 miliar US$September 2024: 3,18 miliar US$Oktober 2024: 2,71 miliar US$November 2024: 4,34 miliar US$Desember 2024: 2,09 miliar US$Januari 2025: 3,54 miliar US$Februari 2025: 3,16 miliar US$Maret 2025: 4,30 miliar US$April 2025: 0,20 miliar US$Mei 2025: 4,31 miliar US$Juni 2025: 4,10 miliar US$Juli 2025: 4,18 miliar US$Agustus 2025: 5,57 miliar US$September 2025: 4,20 miliar US$Oktober 2025: 2,37 miliar US$November 2025: 2,70 miliar US$Desember 2025: 2,52 miliar US$Januari 2026: 0,95 miliar US$Februari 2026: 1,27 miliar US$Maret 2026: 3,32 miliar US$April 2026: 0,09 miliar US$Mei 2026: -1,61 miliar US$Juni 2026: -0,45 miliar US$Juli 2026: 0,12 miliar US$Agustus 2026: 3,55 miliar US$MarJunSepDesMarJunSepDesMarJunAgu2024202520265.5730-1.610September 2025: 4,20 miliar US$Oktober 2025: 2,37 miliar US$November 2025: 2,70 miliar US$Desember 2025: 2,52 miliar US$Januari 2026: 0,95 miliar US$Februari 2026: 1,27 miliar US$Maret 2026: 3,32 miliar US$April 2026: 0,09 miliar US$Mei 2026: -1,61 miliar US$Juni 2026: -0,45 miliar US$Juli 2026: 0,12 miliar US$Agustus 2026: 3,55 miliar US$SepNovJanMarMeiJulAgu202520264.1980-1.610

Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Neraca Perdagangan. Diolah The Signal.

Tiga komoditas nonmigas penyumbang surplus terbesar Agustus adalah lemak dan minyak hewani atau nabati senilai USD3,95 miliar, bahan bakar mineral USD2,45 miliar, serta besi dan baja USD1,78 miliar. Amerika Serikat menjadi mitra dagang dengan surplus nonmigas terbesar, yaitu USD2,41 miliar, diikuti India USD1,19 miliar dan Malaysia USD0,83 miliar. Secara kumulatif Januari-Agustus, surplus perdagangan mencapai USD7,25 miliar, terdiri atas surplus nonmigas USD28,54 miliar dan defisit migas USD21,29 miliar.

Sepanjang Januari-Agustus, total ekspor Indonesia mencapai USD193,64 miliar, tumbuh 4,74 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, dengan ekspor industri pengolahan menyumbang USD159,55 miliar atau 82,40 persen dari total ekspor dan tumbuh 7,87 persen. Komoditas industri pengolahan dengan kenaikan ekspor tertinggi adalah aluminium yang melonjak 102,25 persen, nikel naik 50,12 persen, dan tembaga naik 47,13 persen. Sementara itu, total impor kumulatif mencapai USD186,39 miliar, tumbuh 19,84 persen, lebih cepat dari pertumbuhan ekspor, dengan impor migas melonjak 39,03 persen.

Tiongkok tetap menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Agustus dengan USD47,44 miliar atau 25,55 persen dari total, disusul Amerika Serikat USD22,41 miliar (12,07 persen) dan India USD12,77 miliar (6,88 persen). Adapun negara asal impor nonmigas terbesar didominasi Tiongkok, Jepang, dan Australia dengan kontribusi gabungan 52,72 persen. Pertumbuhan impor tercepat tercatat pada kendaraan udara dan bagiannya yang melonjak 372,70 persen, jauh di atas kelompok barang lainnya.