Pemerintah menempatkan ekonomi digital sebagai salah satu andalan untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027, seperti disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Dasarnya, perekonomian Indonesia tercatat tumbuh 5,45 persen pada semester pertama 2026, masih di bawah target yang dipatok untuk tahun depan. Untuk mengejar selisih itu, pemerintah menetapkan tiga syarat utama: investasi harus tumbuh lebih cepat dari produk domestik bruto, produktivitas pekerja naik, dan ekspor bernilai tambah diperkuat.
Salah satu ukurannya adalah investasi, yang ditargetkan tumbuh 8 sampai 9 persen dengan nilai penanaman modal Rp2.258 triliun. Di sisi ekonomi digital, nilai transaksi bruto atau GMV diperkirakan mendekati US$100 miliar pada 2025, naik 14 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah pengguna QRIS, sistem pembayaran dengan satu kode QR yang berlaku di semua bank dan dompet digital, tercatat 65,77 juta orang dengan 44,86 juta pedagang yang menerimanya.
Di tingkat regional, pemerintah menyelesaikan perundingan ASEAN Digital Economy Framework Agreement atau DEFA, perjanjian yang mengatur aturan bersama ekonomi digital di Asia Tenggara. Perjanjian itu dijadwalkan ditandatangani bersamaan dengan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Filipina pada November 2026, dengan proses ratifikasi ditargetkan rampung 180 hari setelah penandatanganan. Lembaga konsultan Boston Consulting Group memperkirakan implementasi DEFA dapat mendorong ekonomi digital ASEAN tumbuh dari US$1 triliun menjadi US$2 triliun pada 2030.
Pertumbuhan transaksi digital juga memunculkan kebutuhan keamanan baru. Bank Indonesia mencatat 12,99 miliar transaksi pembayaran digital pada kuartal ketiga 2025, tumbuh 38,08 persen dari tahun sebelumnya. Untuk mengantisipasi risiko pencurian data terenkripsi yang baru bisa dibuka lewat komputer kuantum di masa depan, Badan Siber dan Sandi Negara membentuk gugus tugas nasional penyiapan kriptografi tahan kuantum. Di bidang kecerdasan buatan, kerja sama internasional lewat World AI Collaboration Organization atau WAICO diperkirakan menarik investasi US$8 miliar sampai US$12 miliar pada periode 2026-2030.
Dari sisi infrastruktur, kapasitas pusat data yang sudah beroperasi mencapai 600 sampai 700 megawatt, dengan proyek dalam antrean pembangunan sebesar 1,3 gigawatt dan perkiraan nilai investasi US$15 miliar sampai US$20 miliar. NVIDIA disebut menjajaki investasi US$4,5 miliar, sekitar Rp80,1 triliun, di kawasan perdagangan bebas Batam, meski rencana itu masih dalam tahap pembicaraan. Di sektor niaga elektronik, nilai transaksi e-commerce Indonesia diproyeksikan tumbuh lebih dari 14 persen menjadi US$71 miliar, dengan target transaksi Hari Belanja Online Nasional mencapai Rp40 triliun pada akhir 2026, naik 10 persen dari Rp36,4 triliun tahun sebelumnya.
