Kementerian Perdagangan melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) membuka program edukasi tahunan Bulan Literasi PBK 2026 di Jakarta, Kamis (8/10). Lebih dari acara seremonial, pembukaan ini dibarengi rilis data kinerja industri perdagangan berjangka komoditi (PBK) selama 2026, yang penting diketahui publik karena menggambarkan skala uang yang berputar di instrumen ini sekaligus risiko penipuan yang mengintai calon trader baru.

Bappebti mencatat volume transaksi PBK sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 10,35 juta lot, naik 9,4 persen dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 9,46 juta lot. Jumlah nasabah aktif pada Juli-Agustus 2026 tercatat 183 ribu orang. Yang paling mencolok adalah transaksi emas digital fisik, dengan volume 115,9 ton dan nilai transaksi Rp299,5 triliun, melonjak 641,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Transaksi timah murni batangan dan sertifikat energi terbarukan (REC) juga tercatat naik.

Komoditas yang aktif diperdagangkan di PBK antara lain minyak kelapa sawit (CPO), olein, kakao, kopi, dan emas. Bappebti menyebut masih ada sektor komoditas strategis lain yang berpotensi diperdagangkan, yakni karet, kopra, kedelai, jagung, dan teh dari sektor pertanian; nikel, batu bara, dan perak dari sektor tambang dan energi; serta produk perikanan dan kelautan.

Di sisi pengawasan, Bappebti melaporkan sudah memblokir 812 situs perdagangan ilegal sepanjang Januari-September 2026. Penguatan literasi tahun ini juga dikaitkan dengan implementasi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang perubahan UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan. Kegiatan literasi akan berlangsung hingga 8 November 2026 di lima kota yakni Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar, dengan target menjangkau 1,5 juta peserta.