Penjajakan bisnis atau business matching di Pangan Nusa Expo 2026 mencatat potensi transaksi Rp44 miliar hingga hari ketiga penyelenggaraan, Jumat 16 Oktober 2026. Menurut Kementerian Perdagangan, angka ini naik 17 persen dari total transaksi serupa tahun lalu dan sudah melampaui pencapaian penuh tahun sebelumnya, padahal pameran baru resmi ditutup Minggu, 18 Oktober. Angka ini penting karena acara semacam ini jadi jalur bagi UMKM pangan untuk masuk ke rantai pasok ritel modern, bukan sekadar berjualan langsung ke pengunjung pameran.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan, menyebut lebih dari 213 UMKM pangan dan kuliner dipertemukan dengan pelaku usaha dari sektor ritel modern, mulai supermarket, pusat perbelanjaan, hingga jaringan restoran, sepanjang penyelenggaraan expo. Peritel yang ikut antara lain anggota Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO): Superindo, AEON, Hypermart, Marco, Indogrosir, Hero, Alfamart, Indomaret, Hokben, Sushi Tei, Toserba Yogya, Griya, serta jaringan bisnis KAI Service.
Pangan Nusa Expo 2026 berlangsung bersamaan dengan Trade Expo Indonesia ke-41 di lokasi yang sama, sehingga menurut Iqbal, UMKM pangan juga berkesempatan bertemu pembeli dari luar negeri yang hadir dalam rangkaian TEI tersebut. Kesempatan ini membuka jalan bagi UMKM untuk memperkenalkan produk sekaligus menjajaki peluang ekspor, selain memperluas pasar di dalam negeri.
Salah satu UMKM yang merasakan manfaatnya adalah pemilik produk saus bermerek Surabraja, Rizkon Azhari. Ia mengaku sudah melakukan temu bisnis langsung dengan PT Kereta Api Indonesia, Hokben, dan beberapa peritel lain lewat fasilitasi business matching ini, yang menurutnya membuka peluang bagi UMKM seperti miliknya untuk memperluas akses pasar.
