Petrokimia Gresik membawa isu kebutuhan tenaga kerja baru untuk industri rendah karbon ke forum internasional di New York. Direktur Utama Daconi Khotob menegaskan bahwa peralihan ke industri hijau bukan sekadar soal ganti teknologi dan sumber energi, tapi juga soal menyiapkan pekerja dengan keahlian yang berbeda dari sekarang.

Pernyataan itu disampaikan dalam forum Global Talent for Sustainable Development di Konsulat Jenderal Republik Indonesia New York, Selasa 22 September waktu Indonesia, yang dihadiri diaspora, mahasiswa, pelaku usaha, dan praktisi keberlanjutan asal Indonesia. Daconi menyebut investasi pada teknologi hijau perlu dibarengi investasi pada manusia, karena teknologi itu baru berguna kalau ada orang yang mampu merancang dan mengoperasikannya.

Menurutnya, profesi seperti insinyur, agronom, atau akuntan tetap ada, tapi alat kerja dan ukuran keberhasilan mereka akan berubah mengikuti tuntutan efisiensi energi, energi terbarukan, dan pengelolaan emisi karbon. Ia mendorong pelatihan ulang dan pelatihan lanjutan bagi pekerja, serta mengajak talenta Indonesia yang berkarier di luar negeri untuk membawa pulang pengetahuan dan pengalamannya.

Isu talenta ini melekat pada target dekarbonisasi Petrokimia Gresik sendiri, yakni memangkas emisi 30 persen pada 2030 dibandingkan proyeksi tanpa upaya tambahan yang diperkirakan mencapai 3,46 juta ton setara karbon dioksida. Target itu menjadi bagian dari peta jalan perusahaan menuju nol emisi bersih pada 2060.