PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mencatatkan perubahan besar dalam laporan keuangan kuartal III 2026. Penjualan perusahaan naik 19 persen menjadi Rp2,215 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara rugi bersihnya mengecil 32 persen menjadi Rp43 miliar. Yang lebih mencolok, ekuitas perusahaan, yakni selisih antara total aset dan total utang yang mencerminkan modal bersih pemilik, berbalik dari negatif Rp5,271 triliun menjadi positif Rp2,772 triliun. Perubahan ini penting karena mengangkat UNSP dari kondisi defisiensi modal, yaitu saat utang perusahaan lebih besar dari asetnya, ke posisi modal bersih yang kembali positif.

Dari sisi penjualan, 97 persen pendapatan Rp2,215 triliun itu disumbang komoditas sawit senilai Rp2,157 triliun, sementara sisanya Rp58 miliar berasal dari karet. Namun kenaikan penjualan tidak serta merta memperbaiki efisiensi usaha. Laba kotor memang naik 4 persen menjadi Rp598 miliar, tetapi laba operasi turun 10 persen menjadi Rp281 miliar dan EBITDA, yaitu ukuran laba inti sebelum dipotong bunga utang, pajak, dan penyusutan nilai aset, ikut turun 3 persen menjadi Rp419 miliar.

Perbaikan ekuitas UNSP justru datang dari dua langkah di struktur permodalan, bukan dari laba usaha. Total aset perusahaan melonjak 115 persen menjadi Rp7,489 triliun per 30 September 2026, dari Rp3,488 triliun di akhir 2025, setelah UNSP menilai ulang tanah dan tanaman sawitnya senilai Rp3,740 triliun mengikuti harga pasar terbaru. Di sisi lain, total utang dipangkas 46 persen menjadi Rp4,717 triliun dari Rp8,759 triliun, terutama lewat konversi utang senilai Rp4,352 triliun menjadi saham baru. Gabungan dua langkah itu mendorong ekuitas melonjak Rp8,043 triliun, atau naik 153 persen dari posisi sebelumnya.

Untuk sisa tahun buku 2026, UNSP menargetkan penjualan sekitar Rp3 triliun sekaligus membidik laba bersih, setelah sebelumnya terus merugi. Direktur dan Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto, mengatakan perusahaan mengejar target itu lewat program peremajaan kebun (replanting) dan penggunaan bibit unggul untuk menaikkan hasil produksi minyak sawit mentah per hektare, sekaligus membeli tandan buah segar dari petani yang tidak memiliki pabrik sendiri.