PT Venteny Fortuna International Tbk (VTNY) menjawab surat Bursa Efek Indonesia (BEI) No. S-12811/BEI.PP2/10-2026 tanggal 8 Oktober 2026 yang meminta penjelasan atas laporan keuangan interim semester I 2026 dan akhir 2025. Surat balasan diteken Direktur Kaleb Solaiman pada 12 Oktober 2026. Salah satu sorotan BEI adalah transaksi antar anak usaha yang tidak diaudit, Venteny G.K. dan Venteny Pte. Ltd. Venteny G.K. memperoleh advisory fee dari VTNY dan Venteny Pte. Ltd., sementara Venteny Pte. Ltd. memperoleh management fee dari VTNY dan PT Venteny Matahari Indonesia. Perseroan menyebut seluruh transaksi itu bersifat afiliasi. Dana dari penerbitan obligasi Venteny Pte. Ltd. senilai JPY200 juta mengalir ke VTNY, lalu ke PT Venteny Matahari Indonesia, sebelum akhirnya disalurkan sebagai pembiayaan ke debitur pihak ketiga seperti UMKM dan pengguna ekosistem.
Obligasi JPY200 juta itu sebelumnya sudah diperpanjang sampai 30 Agustus 2026, dan kini diperpanjang lagi sampai akhir Desember 2026 atas kesepakatan dengan kreditur untuk melakukan rollover. Perseroan menyebut pelunasan nanti akan mengandalkan kas internal dan hasil operasional grup. Di sisi lain, Venteny G.K. yang ekuitasnya negatif per 30 Juni 2026 masih menanggung obligasi JPY5,90 miliar dengan bunga 6 sampai 8 persen per tahun. VTNY menyatakan Venteny G.K. mendapat dukungan pendanaan dari grup untuk memenuhi kewajiban itu dan belum ada restrukturisasi atas utang tersebut.
Soal piutang, pendapatan VTNY pada semester I 2026 tercatat Rp105,85 miliar, hampir tidak berubah dari Rp104,01 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal piutang yang belum jatuh tempo mencapai Rp1.023,54 miliar per 30 Juni 2026, turun sedikit dari Rp1.059,94 miliar di akhir 2025, dengan bunga pinjaman ke debitur 2 sampai 2,2 persen per bulan dan tenor 1 bulan sampai 1 tahun. Terpisah, piutang usaha dari penjualan dan pengembangan sistem senilai Rp147 miliar yang tercatat per akhir 2025 menjadi nihil pada Juni 2026, bukan karena dibayar tunai, melainkan dialihkan lewat cessie kepada pihak ketiga independen sehingga risiko dan manfaatnya berpindah penuh dan piutangnya dihapus dari buku. BEI juga mempertanyakan 13 dari 16 pihak ketiga dalam daftar piutang itu yang nilainya sama persis, Rp3,15 miliar masing-masing, serta sejumlah nama yang tidak ditemukan di data AHU. Ketiga belas perusahaan itu adalah PT Software Karya Bangsa, PT Inonvasi Teknologi Software, PT Arjuna Sakti Nusantara, PT Satria Teknologi Maju, PT Satria Anak Muda Kreatif, PT Satria Anak Muda Cemerlang, PT Satria Kreatif Dinamis, PT Bumi Cipta Teknologi Berlanjut, PT Solusi Perangkat Lunak Indonesia, PT Bunidigi Nusa Persada, PT Tekno Inovatif Indonesia, PT Teknologi Canggih Nusantara, dan PT Inovasi Cerdas Indonesia. Perseroan menyatakan sudah memverifikasi keberadaan dan legalitas mereka lewat pemeriksaan NPWP, NIB, dan identitas pengurus.
Di luar urusan keuangan, VTNY juga menjelaskan pergantian corporate secretary dua kali dalam waktu kurang dari dua pekan. Zasa Pingkan Kinanti mengundurkan diri efektif 29 September 2026 dan sempat digantikan Synthia Wijaya, namun belakangan ditemukan Synthia masih aktif merangkap jabatan di emiten lain sehingga penunjukannya dibatalkan. Grand Yustitia Wirawan kemudian ditunjuk sebagai corporate secretary baru efektif 7 Oktober 2026. Perseroan juga melaporkan liabilitas imbalan kerja naik dari Rp1,93 miliar menjadi Rp2,80 miliar akibat pergantian aktuaris yang mengubah asumsi tingkat diskonto dari 6,9 persen menjadi 7,2 persen, sementara jumlah karyawan tetap turun dari 86 orang per akhir 2025 menjadi 75 orang per Juni 2026. BEI turut mempertanyakan selisih realisasi dana IPO Rp49,97 miliar, yang menurut prospektus dan RUPSLB 11 Oktober 2023 direncanakan untuk VENTENY Super-App, namun ikut dipakai membiayai VENTENY Management System, Loan Origination System, dan pengembangan teknologi data. Jawaban rinci Perseroan atas poin ini terpotong dalam dokumen yang diterima.
