Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengatakan dalam sebuah wawancara televisi bahwa tugasnya membantu Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menggerakkan ekonomi domestik lewat koordinasi lintas kementerian dan lembaga, agar hambatan yang dihadapi pelaku usaha bisa lebih cepat diselesaikan. Ia menyoroti pembacaan data Badan Pusat Statistik yang menurutnya menunjukkan daya beli masyarakat tidak melemah secara keseluruhan, melainkan bergeser ke sektor pariwisata, perhotelan, makanan dan minuman, serta layanan daring. Pembacaan ini relevan karena berkaitan langsung dengan perdebatan publik soal pelemahan daya beli yang belakangan ramai dibahas.
Dradjad menyebut stok beras nasional relatif aman berdasarkan laporan yang ia terima, meski risiko kemarau panjang tetap perlu dimitigasi agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Di sektor energi, ia menjelaskan bahwa pasokan listrik secara nasional sudah mencukupi, tetapi keterbatasan jaringan antarwilayah membuat distribusinya belum merata di sejumlah daerah. Ia juga menyinggung perlunya evaluasi kebijakan subsidi energi agar bantuan lebih tepat sasaran dan pengelolaannya lebih efisien.
Dari sisi anggaran, Dradjad menyebut masih ada ruang untuk menggali penerimaan negara yang belum tergarap dan memangkas belanja yang kurang efisien dalam APBN, agar ruang fiskal untuk program prioritas tetap terjaga. Ia juga menjelaskan bahwa investasi Danantara diharapkan tercatat sebagai bagian dari pembentukan modal tetap bruto, yaitu belanja untuk aset jangka panjang seperti pabrik dan alat berat yang menjadi salah satu komponen penghitungan produk domestik bruto. Pencatatan kontribusi investasi badan usaha milik negara terhadap pertumbuhan ekonomi, menurutnya, juga akan disempurnakan agar dampaknya lebih mudah dipantau.
Dradjad mengajak pelaku usaha melaporkan kendala yang menghambat industri dan investasi melalui kanal debottlenecking Kemenko Perekonomian, dengan harapan persoalan di lapangan bisa lebih cepat dikoordinasikan dan diselesaikan. Ia mencontohkan Kabupaten Sidenreng Rappang di Sulawesi Selatan yang kini mengolah gabah di daerahnya sendiri, sehingga nilai tambah yang sebelumnya dinikmati daerah lain dapat tertahan dan memperkuat ekonomi setempat.
