Paparan Publik (Public Expose) Tahunan 2026 PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) berlangsung Senin, 7 September 2026, pukul 11.00 WIB, secara elektronik melalui platform Public Expose Live 2026 di situs IDX. Acara dihadiri 118 peserta di luar jajaran manajemen dan karyawan perseroan, dilanjutkan dengan konferensi pers yang diikuti 94 perwakilan media. Perseroan diwakili oleh Shannedy Ong, Direktur sekaligus Chief Commercial Officer yang juga menjabat Corporate Secretary, dan Olivia Simon, Head of Investor Relations. Materi yang disampaikan mencakup kinerja keuangan semester I 2026, perkembangan dua mesin pertumbuhan perseroan yaitu layanan internet rumahan berbasis sinyal radio IRA (5G FWA) dan layanan internet kabel fiber Starlite (FTTH), serta rencana bisnis ke depan.
Dari sisi keuangan, manajemen melaporkan margin EBITDA semester I 2026 mencapai 60,4 persen, angka yang menurut manajemen tergolong tinggi untuk bisnis internet rumahan dengan tarif pelanggan sekitar Rp100.000 hingga Rp250.000 per bulan. Perseroan menganggarkan belanja modal sekitar Rp7 triliun untuk tahun 2026, setelah merealisasikan sekitar Rp1 triliun pada semester pertama. Rinciannya, sekitar Rp1,5 triliun dialokasikan untuk menambah 2 juta home connect FTTH melalui anak usaha, sekitar Rp500 miliar untuk fiberisasi menara, dan sisanya untuk perangkat radio FWA serta pengembangan jaringan backbone dan penambahan kapasitas.
Soal pelanggan, manajemen menyebut jumlah pelanggan gabungan FWA dan FTTH baru mencapai sekitar 1,85 juta hingga semester I 2026, sementara target akhir tahun adalah sekitar 3 juta pelanggan FWA, 5.500 site FWA, dan 3,5 juta home pass FTTH. Seorang investor, Andre Sitompul, mempertanyakan pencapaian target itu karena penambahan pelanggan baru hingga Juni 2026 baru sekitar 500 ribu. Manajemen menjawab akan mengandalkan skema Rumah Sahabat IRA, yang sudah diikuti lebih dari 9.000 mitra terdaftar, serta kerja sama dengan perusahaan pembiayaan mikro untuk mempercepat penjualan. Manajemen juga mengakui kecepatan pembangunan jaringan sempat tak sesuai ekspektasi karena tingkat fiberisasi menara milik penyedia infrastruktur masih rendah, sehingga perseroan kini beralih membangun sendiri infrastruktur BTS melalui skema rooftop di rumah pelanggan dan lokasi mitra FTTH. Untuk 2027, perseroan menargetkan penambahan site FWA menjadi 9.000 lebih, atau tambahan kurang dari 4.000 site dari target 2026.
Perseroan juga meluncurkan produk Starlite Super dengan kecepatan hingga 2 Gbps seharga sekitar Rp250.000 per bulan, di samping Starlite Prime, sebagai upaya menaikkan kelas pelanggan yang butuh koneksi lebih cepat. Menjawab pertanyaan wartawan Bisnis.com soal kemungkinan aksi korporasi seperti rights issue atau akuisisi, manajemen menyatakan belum bisa mengungkapkan rencana apa pun untuk enam bulan ke depan dan akan mengumumkannya lewat keterbukaan informasi jika ada. Manajemen juga memastikan fokus bisnis ke depan tetap di sektor telekomunikasi pascadivestasi aset digital JDU, termasuk memperluas jaringan tulang punggung fiber optik dari Jawa ke Sumatra serta jaringan kabel laut yang menghubungkan Jawa Timur dengan Maluku dan Papua.
