PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) mengoreksi laporan penggunaan dana hasil rights issue yang sebelumnya disampaikan 15 Juli 2026. Rights issue WIFI-R efektif 20 Juni 2025 menghasilkan dana kotor Rp5.898.387.794.000, dengan biaya emisi Rp1.580.000.000 sehingga dana bersih yang diterima Rp5.896.807.794.000. Per periode laporan 30 Juni 2026, perusahaan baru merealisasikan Rp1.325.617.794.000 atau 22,48 persen dari dana tersebut, sementara sisanya Rp4.571.190.000.000 atau 77,52 persen masih tersimpan dalam bentuk giro dan deposito di sejumlah bank.
Rencana awal mengalokasikan Rp5.065.218.000.000 atau 85,9 persen dari dana bersih untuk belanja modal pengadaan perangkat CPE dan RAN proyek internet rumahan tanpa kabel (fixed wireless access/FWA). Realisasinya baru Rp1.325.617.794.000 atau 22,48 persen, deviasi minus 73,83 persen dari rencana, dengan alasan pengadaan perangkat dilakukan bertahap sesuai kebutuhan dan kondisi pasar, ditargetkan tuntas kuartal IV 2027. Dua pos lain belum terealisasi sama sekali: biaya izin pita frekuensi radio (IPFR) tahunan 1,4 GHz tahun kedua sebesar Rp403.764.000.000 atau 6,85 persen, karena belum jatuh tempo dan baru dibayarkan Desember 2026, serta modal kerja proyek FWA sebesar Rp421.018.000.000 atau 7,14 persen, yang masih ditutup dari kas internal perusahaan. Dokumen juga menjelaskan alur dananya: perseroan menyetor modal Rp5.890.000.000.000 ke anak usaha PT Jaringan Infra Andalan (JIA), yang kemudian meneruskannya dengan jumlah sama ke PT Telemedia Komunikasi Pratama (TKP) untuk pengadaan perangkat, namun setoran itu pada tanggal cut off laporan belum tercatat resmi sebagai modal di JIA maupun TKP dan baru akan dikonversi pada kuartal IV 2026.
Sisa dana Rp4.571.190.000.000 ditempatkan di delapan rekening berbeda: giro BCA Rp29,5 miliar (bunga 0,5 persen), giro Bank J Trust Rp860,9 miliar (0,9 persen), giro Bank KB Indonesia Rp47,1 miliar (1,65 persen), giro Bank Maybank Indonesia Rp26,7 miliar (3 persen), deposito Bank Hibank Rp52,5 miliar dan Rp412 miliar (masing-masing 5 persen), giro Bank Hibank atas nama JIA Rp1,5 triliun (0,5 persen), serta giro Bank Jakarta atas nama JIA Rp1.642.490.000.000 (1,25 persen). Biaya penawaran umum sebesar Rp1,58 miliar dirinci untuk jasa akuntan KAP Anwar & Rekan Rp175 juta, konsultan hukum Dentons HPRP Rp400 juta, notaris Rini Yulianti Rp55 juta, biro administrasi efek Ficomindo Rp50 juta, pendaftaran OJK Rp750 juta, dan pencatatan BEI Rp150 juta. Laporan realisasi ditandatangani Shannedy Ong selaku Direktur di Jakarta 13 Oktober 2026, sedangkan surat pengantar koreksinya ditandatangani Hendrik Tee selaku Direktur Utama.
